<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619</id><updated>2011-08-06T04:24:04.819+08:00</updated><title type='text'>JaF's Radio Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-112231035657001314</id><published>2005-07-26T00:39:00.000+08:00</published><updated>2005-07-26T00:52:36.586+08:00</updated><title type='text'>** JAF'S RADIO BER MIGRASI !  * *</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.suarane.com"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3434/386/320/suarane.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Bersama dengan ini diumumken bahwasanya terhitung hari ini, situs "JaF's Radio Blog" alias situs yang sedang anda baca ini telah memutusken untuk mandiri dan mencoba "berdiri di atas hosting sendiri" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JaF's Radio Blog kini ada di: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suarane.com"&gt;&lt;strong&gt;http://www.suarane.com&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan kepindahan itu, kami dengan ini mengucapken beribu terimakasih kepada Blogger dan Blogspot yang sudah bersedia menampung kami selama ini. Juga kepada Mas Made dan webterbaik.com yang sudah mendaulat kami menjadi salah satu web terbaik Indonesia versi Mas Made.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih kepada seorang kawan baik yang sudah bersedia membantu mendirikan tempat yang baru ini, semoga dirimu mendapat tempat yang layak di alam saiber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap dipermaklumken adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertanda, &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JaF&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-112231035657001314?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/112231035657001314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=112231035657001314&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/112231035657001314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/112231035657001314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/07/jafs-radio-ber-migrasi.html' title='** JAF&apos;S RADIO BER MIGRASI !  * *'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-111820147581073384</id><published>2005-06-08T11:10:00.000+08:00</published><updated>2005-06-08T11:47:34.976+08:00</updated><title type='text'>[Penulis Tamu] Masih Adakah Bagian Dirimu Yang Menjadi Misteri Untuk Dikhayalkan?</title><content type='html'>"&lt;em&gt;We hardly need you use our ears..&lt;/em&gt;"  Ini adalah salah satu bagian dari lirik lagu &lt;em&gt;Radio Ga Ga&lt;/em&gt; dari kelompok &lt;em&gt;Queen&lt;/em&gt; yang menceritakan betapa radio siaran mulai dikalahkan oleh media visual. Kita nyaris tak perlu menggunakan telinga lagi, ledek Queen, dan ini seolah dibenarkan oleh &lt;em&gt;The Buggles&lt;/em&gt; dalam &lt;em&gt;Video Killed The Radio Star&lt;/em&gt; yang liriknya antara lain berbunyi "&lt;em&gt;Pictures came and broke your heart, put the blame on VTR.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kembali mengutip Queen, "&lt;em&gt;Radio someone still love you&lt;/em&gt;" masih ada yang mencintai radio karena banyak kelebihan yang tidak bisa digantikan oleh media lainnya. Salah satunya adalah seperti yang ditulis oleh kawan blogger yang satu ini yang hanya saya kenal dengan nick nya: &lt;strong&gt;&lt;a href="http://bw.or.id/blog/index.php" target="_blank"&gt;MangQ&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;. Jadilah saya pinjam tulisan beliau untuk dipajang di sini. Tulisan aslinya ada &lt;a href="http://bw.or.id/blog/2005/06/100/" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Thanks Mang.. ;-) Read on guys..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masih Adakah Bagian Dirimu Yang Menjadi Misteri Untuk Dikhayalkan?&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;oleh &lt;a href="http://bw.or.id/blog/index.php" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;MangQ&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berapa lagu tentang radio yang populer? Setidaknya empat yang aku tahu: &lt;strong&gt;Radio Gaga&lt;/strong&gt; (Queen), &lt;strong&gt;Radio&lt;/strong&gt; (The Corrs), &lt;strong&gt;Radio Saves My Life Tonight&lt;/strong&gt; (Bon Jovi), dan &lt;strong&gt;Radio&lt;/strong&gt; (Robbie Williams). Ada berapa lagu yang dipopulerkan radio? Tak terhitung, atau kalau diperlukan suatu angka, akan kukatakan saja angka 100%. Berapa umur suatu lagu di radio? Mungkin dalam ukuran minggu suatu lagu akan berotasi kencang di radio, sebelum akhirnya digantikan dengan lagu yang lain. Berapa sudah umur radio? Panjang, ukurannya tahunan. Meski belum setua umur musik, umur radio sudah panjang. Radio pertama siaran tahun 1906, kata situs &lt;a href="http://www.radiocom.net/Fessenden/" target="_blank"&gt;ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika televisi lahir, ada yang meramalkan umur radio akan segera mati. Sama seperti ketika internet hadir, dikatakan koran akan segera mati. Akan tetapi hal itu tidak terjadi. Radio terus berjaya, seperti slogan RRI sekali di udara tetap di udara (Bayangkan jika slogan ini dipakai oleh maskapai penerbangan). Mengapa? Sifat radio yang portable dan bisa didengarkan sambil melakukan perkerjaan lain. Itu mungkin yang menjadi daya tarik utama radio. Kita mungkin akan sulit mengemudi, belajar, bekerja atau memasak sambil nonton televisi. Bahkan sifat interaktif radio pun masih tetap bisa dinikmati sambil bekerja. Kita masih bisa memasak dan menelpon ke stasiun radio untuk sekedar kirim-kirim lagu, mengikuti kuisnya atau mengeluarkan pendapat dalam talk show interaktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi ada satu hal dari radio yang akan tetap khas: radio menyisakan satu misteri tentang penyiarnya. Karena kita hanya mendengarkan suaranya, maka ada satu ruang yang disediakan untuk kita mengkhayalkan bagaimana sebenarnya penyiar tersebut. Dengan hanya menggunakan medium suara, maka semua imajinasi tentang bagaimana rupa dan sifat asli penyiarnya menjadi milik kita seutuhnya. Berbeda dengan penyiar berita televisi, ruangan imajinasi yang kadang tersisa adalah apakah penyiar itu menggunakan rok atau celana panjang. Atau kamu membayangkan penyiar televisi memakai celana pendek? Sisanya sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri yang tersisa, diisi dengan imajinasi, terserah sesuai keinginan dan daya khayal masing-masing, sehingga menciptakan keindahan sesuai dengan keinginan masing-masing. Hal yang sama mungkin bisa didapatkan dari foto hitam putih, dimana warna-warna yang mengganggu ekspresi dihilangkan, sehingga ekspresi atau suasana menjadi lebih terekam. Khayalan tentang warna menjadi bagian yang disisakan untuk diinterpretasikan tersendiri oleh yang melihatnya. Satu contoh lain adalah foto erotis. Nilai erotisnya berkurang setelah semua ditanggalkan dan ditampilkan. Tidak adalagi yang tersembunyi dan ruang untuk penasaran dan berkhayal telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diterapkan ke hubungan interpersonal, ketertarikan juga akan lebih besar saat masih ada misteri yang disisakan untuk memancing rasa ingin tahu dan ingin mengenal lebih dalam. Misteri, bagian yang tersembunyi, rahasia kecil dan kejutan-kejutan tak terduga dari manusia memang selalu menarik. Tak heran jika selebritis selalu dikorek-korek kehidupannya, karena semua yang tertutup biasanya lebih memancing keingintahuan dariada yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, masih adakah bagian dari dirimu yang masih menjadi misteri untuk dikhayalkan? *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________&lt;br /&gt;*Sumber asli: &lt;a href="http://bw.or.id/blog/2005/06/100/" target="_blank"&gt;http://bw.or.id/blog/2005/06/100/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-111820147581073384?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/111820147581073384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=111820147581073384&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/111820147581073384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/111820147581073384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/06/penulis-tamu-masih-adakah-bagian.html' title='[Penulis Tamu] Masih Adakah Bagian Dirimu Yang Menjadi Misteri Untuk Dikhayalkan?'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-111753461549622796</id><published>2005-05-31T18:14:00.000+08:00</published><updated>2005-05-31T18:19:39.486+08:00</updated><title type='text'>[GapTek] Spikernya Di Mana, ya?</title><content type='html'>Pertanyaan di atas pastinya sudah awam buat wartawan radio yang meliput acara jumpa pers, seminar atau kegiatan semacamnya. Alasannya pasti sudah jelas. Namanya radio tentu memerlukan rekaman suara. Maka jangan heran kalau dalam berbagai acara anda melihat ada orang mengerumuni loudspeaker atau spiker sambil menodongkan alat rekam. Itu praktek yang sudah awam, bukan cuma buat radio, tapi juga televisi dan cetak. Kualitas suara pun relatif bagus.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sebenarnya ada cara paling gampang, yakni dengan meletakkan alat rekam di depan pembicara. Tapi kendalanya banyak. Pertama, belum tentu mikrofon kita bisa menangkap ucapan pembicara dengan jelas, apalagi kalau mikrofon di alat rekam kita kurang sensitif. Terlebih lagi kalau pembicaranya lebih dari satu orang. Tentu repot urusannya memindah-mindahkan alat rekam kesana kemari. Kedua, kita tidak bisa mengontrol kalau kalau alat rekam tiba-tiba mati, atau tapenya habis. Pada akhirnya, jalan paling mudah tinggal todong alat rekam ke spiker. Beres!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan kalau menggunakan teknik ini. Pertama, jangan terlalu dekat karena suaranya seringkali pecah. Kedua, jangan terlalu jauh juga karena seringkali hasil rekamannya akan bergema. Ketiga, matikan handphone karena seringkali sinyal GSM mengganggu alat rekam. Ke empat, sebisa mungkin gunakan headphone agar anda bisa mengontrol kualitas suara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan juga menambahkan saran berikut ini: Jauhi wartawan radio xxx (maaf saya tak sebut nama radionya, tak etis lah..). Awalnya saya pikir dia bercanda, tapi ternyata seringkali wartawan radio xxx tadi punya kebiasaan menodongkan handphone atau hp ke spiker dan disiarkan langsung di radionya. Akibatnya, sinyal dari hp si wartawan radio ini seringkali mengganggu sinyal alat rekam teman-teman wartawan lain yang juga sedang menodongkan alat rekamnya ke spiker yang sama. (Terlepas dari gangguan itu, saya harus akui ide radio xxx untuk melakukan siaran langsung dengan cara itu sangatlah kreatif.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, belum semua penyelenggara acara yang melibatkan wartawan, punya kesadaran atau pemahaman untuk menyediakan speaker di lokasi strategis yang bisa digunakan oleh wartawan, khususnya wartawan radio. Beberapa hotel berbintang misalnya lebih mengandalkan spiker permanen yang biasanya terpasang di langit-langit. Mereka pikir itu sudah cukup, padahal hasilnya rekamannya seringkali tidak maksimal. Tak heran kalau kemudian kami wartawan menanyakan dimana spikernya, mereka terbengong-bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya satu tips lagi. Kalau anda tidak menemukan spiker, sebenarnya masih ada cara lain. Biasanya hotel atau gedung pertemuan memiliki control room dimana mereka mengatur sound system yang digunakan untuk acara tersebut. Nah, mereka biasanya juga punya monitor kecil yang bisa anda gunakan untuk meletakkan alat rekam anda di sana. Lebih bagus lagi kalau mereka menyediakan output audio yang tinggal anda hubungkan dengan kabel ke alat rekam anda. Suaranya dijamin bagus dan bebas gangguan dari suara-suara luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, ini tips buat para penyelenggara seminar atau acara yang mengundang media atau pers. Sediakanlah spiker khusus untuk kami para wartawan, khususnya wartawan radio. Lebih bagus lagi kalau anda bisa menyediakan jalur output audio khusus yang bisa kami sambungkan dengan kabel audio ke alat rekam kami. Hasil liputan acara anda pun tentu akan lebih bagus lagi. Bukan begitu, bukan? :-)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-111753461549622796?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/111753461549622796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=111753461549622796&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/111753461549622796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/111753461549622796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/05/gaptek-spikernya-di-mana-ya.html' title='[GapTek] Spikernya Di Mana, ya?'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-111327466936237517</id><published>2005-04-12T10:56:00.000+08:00</published><updated>2005-06-08T11:37:07.936+08:00</updated><title type='text'>[Penulis Tamu] Sehabis Gempa Menjelang Pupus Bulan Maret itu Datang....</title><content type='html'>Kenalkan, teman saya, namanya Firmansyah, biasa dipanggil Firman atau Firqie. Kami sudah bersama-sama marambah dunia radio sejak bertahun-tahun lalu, bahkan pernah bersama ikut terlibat dalam proyek idealis untuk membuat sebuah kantor berita radio yang pertama di Indonesia. (&lt;em&gt;Terbukti berhasil, meskipun kemudian harus mengalah pada dunia komersil..hehehe&lt;/em&gt;). Dari proyek itu kami kemudian berpisah jalan, meskipun masih di rel dunia radio. Namun di saat saya masih betah di sini, dia sudah 'keluyuran' ke mana-mana. Terakhir di ada di Timor Leste melatih para insan radio di sana. Eh, sekarang sudah ada di Aceh, dan baru-baru ini dia kirim tulisan tentang pengalamannya di kawasan yang baru diobrak-abrik gempa dan diguyur Tsunami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Firqie.. Firqie.. Sumpah gue iri banget dengan beragam pengalamanmu..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sehabis gempa menjelang pupus bulan Maret itu datang....&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh: Firmansyah MS, Produser Eksekutif Peuneugah Aceh Internews&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Jamal Abdullah -pemusik muda Aceh- dan musik tradisi Aceh masih terdengar dari laptopku, ketika gempa datang di malam itu. Saat itu  kusedang mendengarkan dan mengedit lagu ‘wamule’ gubahan pemusik tradisional Aceh Jamal Abdullah dari bentuk file &lt;i&gt;mp3&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;wave&lt;/i&gt;. File wave dari lagu ‘&lt;i&gt;wamule&lt;/i&gt;’ itu akan kumasukkan dalam file arsip &lt;b&gt;Peuneugah Aceh&lt;/b&gt;, program radio siaran darurat Internews. Program ini mengudara satu jam setiap hari di beberapa stasiun radio di Aceh dan juga bisa didengar melalui radio satelit &lt;i&gt;worldspace&lt;/i&gt; pada saluran &lt;i&gt;Relief&lt;/i&gt; pagi, pk. 7.00, dan sore hari, pk. 16.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam 28 Maret 2005 itu, kusedang berada di kantor sekaligus rumah para staff Internews Aceh, kawasan Lamlagang, Banda Aceh. Sekitar pukul 11 malam, tiba-tiba datang goncangan, yang pelan tapi pasti semakin besar. Meja tempat aku meletakkan laptop bergoyang, begitu pula dengan sebuah kipas angin berdiri yang berada di dekatku. Zihni, dari tim TV Internews, yang saat itu sedang berdiskusi singkat denganku tentang musik tradisi Aceh, belum begitu merasakan goncangan itu. Baru kemudian, setelah makin lama makin kencang, Zihni dan juga aku serta diikuti kawan-kawan lainnya –Dadang, Sandy, Haidir, Haryo, Ucok dan Ferry, berjalan keluar rumah. Kami berdiri di halaman depan rumah sambil memantau perkembangan. Listrik seketika mati di Lamlagang. Aku menduga listrik juga mati di bagian-bagian kota Banda Aceh lainnya. Suara azan berkumandang di depan rumah kami –dari sebuah panti pijat tuna netra dan juga dari mulut Pak Alaiddin, pemilik rumah yang kami sewa. Mulut kami sendiri tak putus melafadzkan &lt;i&gt;istighfar, tahlil (laa ilaaha illallaah) &lt;/i&gt;  dan &lt;i&gt;allahu akbar&lt;/i&gt;, sebagai ekspresi mohon ampun atas segala dosa yang kami telah perbuat selama ini. Sungguh pengalaman yang menggetarkan jiwa.. Tubuh lunglai, lidah kelu.. Saat itu bagiku, menjadi saat yang membuatku melebur kehadirat Tuhanku dengan sebenar-benarnya.. Serentak kuingat kutipan syair dari puisi ‘Doa’ Chairil Anwar, penyair revolusioner Indonesia angkatan ’45 yang kukagumi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Biar susah sungguh&lt;br /&gt;Mengingat Kau penuh seluruh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;Di pintu-Mu aku mengetuk&lt;br /&gt;Aku tidak bisa berpaling&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku mencoba mengirim kabar kepada sanak-keluarga dan handai-taulan. Kucoba menelepon, tetapi tidak berhasil. Kukirimkan &lt;i&gt;sms&lt;/i&gt;, hampir semuanya gagal juga. Kecuali dua, &lt;i&gt;sms&lt;/i&gt; itu terkirim ke seorang kawan Acehku, Cut Nyak Inseun Faradena dan kawanku di Internews kantor Jakarta –saat itu sedang berada di Medan, Eric Sasono. Pesan singkat itu berbunyi.. &lt;i&gt;Baru sj tjd gempa ckp bsr &amp; lama di Banda.. Listrik mati... &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah hidupku yang 33 tahun ini, inilah gempa bumi terbesar dan terlama yang kualami. Kurang-lebih tiga menit gempa itu berlangsung di Banda Aceh dan sekitarnya. Kekuatan gempa 8,7 skala richter di pusat gempa, antara pulau Simeleu di Aceh dan Pulau Nias di provinsi Sumatera Utara, demikian data yang kudapatkan dari website &lt;i&gt;World Data Center US Geological Survey&lt;/i&gt; pada keesokan harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 45 menit dari saat gempa berlangsung, aku dan salah seorang pengemudi mobil kami, Ucok, pergi ke studio Peuneugah Aceh di Geuceu, Banda Aceh, kurang-lebih 1 kilo meter dari kediaman kami. Kuingin pastikan semuanya selamat, para kru dan peralatan yang ada di sana. Tiga telepon selular -Kartu Halo Telkomsel, Matrix Satelindo dan Simpati Telkomsel Aceh, serta satu telepon satelit menemani perjalananku keluar rumah. Harapanku, kawan-kawan Internews atau kawan-kawan lainnya tidak akan mengalami kesulitan untuk menghubungiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di studio, aku hanya bertemu Agus Rahmad, reporter sekaligus editor kami. Agus juga sempat lari ke daerah yang lebih tinggi, karena ia dan juga rata-rata keluarga Aceh lainnya masih belum bisa melupakan tragedi tsunami yang datang setelah gempa dahsyat 18 menit tiada henti lalu, pada 26 Desember 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menunjukkan pukul 00.00 dini hari, aku meninggalkan studio menuju rumah sound enginer kami, Danil Abdi di kawasan Blower, salah satu daerah yang kena dampak besar dari tsunami. Maksudku kesana, mungkin ada yang bisa aku bantu untuk mengantar keluarga Danil jika mereka ingin pergi ke tempat yang lebih tinggi, khawatir tsunami akan datang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di rumah Danil, kulihat keluarga Danil sedang bersiap untuk mengungsikan diri dengan sebuah mobil dan beberapa sepeda motor. Aku tidak bertemu Danil di sana. Menurut adik Danil, kakaknya telah pergi ke studio Peuneugah Aceh kami. Aku pamit dan kemudian melanjutkan perjalanan melihat suasana seputar kota Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan Simpang Surabaya dan beberapa jalan besar lainnya, masyarakat masih ramai mengungsikan diri. Wajah-wajah cemas itu juga terlihat di beberapa jembatan, ada yang berjalan kaki, ada pula yang mengendarai sepeda motor. Mereka masih belum bisa melupakan tragedi tsunami yang meluluh-lantakkan kota mereka tiga bulan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, tiba-tiba seorang laki-laki menelepon di telepon selularku. Ia mengaku bernama Christian dari CNN, salah satu industri pers besar di dunia itu. Ia meneleponku dari kantornya di Washington DC, Amerika Serikat. Aku kaget. Darimana gerangan CNN dapatkan nomor &lt;i&gt;handphoneku&lt;/i&gt; yang nomor Aceh ini? Namun, kemudian kucepat menduga, mungkin dari Wayne Sharpe, Kepala Internews Indonesia, atau Kathleen Reen, Kepala Kantor Regional Internews di Bangkok, Thailand. Christian CNN mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku seputar situasi kota Banda Aceh pasca-gempa. Ia juga bertanya tentang apa yang masyarakat lakukan pada saat dan setelah gempa terjadi. Kurang-lebih 5 menit CNN melakukan percakapan telepon internasional denganku. Di akhir percakapan CNN memintaku untuk menyebutkan ejaan huruf dari namaku satu-persatu. Mungkin ini dilakukan Christian sebagai kredit buatku yang telah memberikan informasi kepada CNN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang siapa gerangan pemberi nomor telepon genggamku kepada CNN itu, akhirnya terungkap. Kelly Kirana Deuster, Koordinator Kantor Internews Banda Aceh, itulah orangnya. Ceritanya begini... Rabu malam sekitar pk. 23.00, aku berbincang dengan  Kelly yang baru tiba Selasa sore dari liburan seminggunya di Bangkok, Thailand. Kubercerita tentang kebingungan dan rasa penasaranku tentang siapa yang memberikan nomor kontak telepon selularku kepada CNN. Kelly sempat diam sejenak, lalu tersenyum. Ia mencoba mengingat kembali apa yang ia lakukan pada malam terjadinya gempa di beberapa wilayah di pulau Sumatera, termasuk di Aceh itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, Kelly sedang berada di bandara Changi, Singapura. Ia sedang membuka email. Tiba-tiba datang email dari kawannya di Amerika Serikat. Temannya mengirim kabar singkat bahwa CNN sedang butuh seseorang di Banda Aceh yang bisa membantu mereka melaporkan perkembangan yang terjadi di kota ini pasca-gempa. Kelly lalu menjawabnya dengan singkat pula. Ia menyebut namaku, Firmansyah MS, produser eksekutif Peuneugah Aceh Internews, sebagai orang yang bisa membantu CNN di Banda Aceh itu. Menurut Kelly, itu terjadi kira-kira pk. 01.00 waktu Singapura atau 00.00 waktu Banda Aceh. Sekitar pk. 00.30 CNN menghubungiku. Itu berarti hanya dalam tempo 30 menit CNN langsung menindaklanjuti informasi yang Kelly berikan melalui email kepada kawannya di Amerika Serikat. Sungguh luar biasa!! Betapa cepat cara kerja mereka dalam menyajikan informasi kepada publik, khususnya pemirsa mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengamati masyarakat yang nampak bingung di jalan-jalan dan beberapa jembatan, kumencari frekuensi radio dari pesawat radio yang ada di mobil kami. Setidaknya ada dua stasiun radio yang mengudara saat itu, Prima FM dan Suara Aceh FM –sebuah stasiun radio darurat. Kesempatan pertama, aku mendengarkan Prima FM. Radio bermoto ‘radio untuk kaum profesional muda’ itu sebetulnya tidak membuat siaran sendiri melainkan menyiarkan secara langsung dari siaran radio 68H di Jakarta. Siaran ini dipancarkan radio 68H melalui satelit dan kemudian disiarkan kepada radio-radio siaran jaringan mereka. Dalam siaran yang disiarkan Prima FM ini, radio 68H tidak hanya bicara Aceh, tetapi juga bicara tentang daerah-daerah lainnya yang terkena dampak gempa, antara lain seperti: pulau Nias di Sumatera Utara, Pekanbaru dan beberapa kota lain di Riau dan Padang  provinsi Sumatera Barat. Meskipun kemudian ada beberapa penelepon dari Aceh, khususnya Banda Aceh, tetapi pasti jumlahnya tidak terlalu banyak. Sebab, para pendengar siaran radio 68H di provinsi lainnya pun pasti ingin ikut berpartisipasi melalui saluran telepon yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku, beralih pada frekuensi 99,0 MHz, radio Suara Aceh FM. Saat itu mereka sedang menyiarkan langsung laporan reporter radio Baiturrahman FM Masyudi –yang juga reporter Peuneugah Aceh kami, dari sekitar kawasan pengungsi di Ulee Lheu –salah satu daerah terparah yang terkena bencana tsunami. Yudi melaporkan bahwa masyarakat pengungsi di Ulee Lheu sudah mulai tenang dan berangsur mulai kembali ke kamp-kamp mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun hanya satu orang reporter yang diterjunkan pada dini hari itu, terasa betul Suara Aceh FM memainkan perannya sebagai media lokal dengan sajian informasi yang kaya akan muatan lokal (&lt;i&gt;local content&lt;/i&gt;). Lalu, Yudi pun pindah ke lokasi lainnya untuk siap menyajikan informasi kepada &lt;i&gt;suadaraku&lt;/i&gt; –sapaan khusus untuk para pendengar Suara Aceh FM, tentang perkembangan terakhir di Banda Aceh selepas gempa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika waktu menunjukkan pk. 01.00, dua penyiar di studio, Misran dan Candi Sinaga, mengucapkan salam perpisahan. Itu pertanda bahwa sebentar lagi Suara Aceh FM pamit sementara dari udara Banda Aceh dan sekitarnya untuk kembali bersiaran esok pagi. Aku tersentak. Aku pikir, Suara Aceh FM harus terus mengudara untuk beberapa saat, satu atau dua jam lagi, untuk menenangkan masyarakat dengan memberikan informasi perkembangan terakhir kepada mereka. Sebab, menurut pendapatku, pada siaran Prima FM yang menyiarkan langsung dari radio 68H di Jakarta muatan lokal Aceh, khususnya Banda Aceh, kurang begitu terasa. Maka, aku memutuskan segera menuju Suara Aceh FM di jalan Teungku Daud Beureueh  untuk menemui pimpinan Suara Aceh FM &lt;i&gt;Bung&lt;/i&gt; Candi Sinaga, yang saat itu baru saja menutup siarannya bersama Misran, penyiar radio Megah FM Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Suara Aceh FM, aku berdiskusi dengan Candi agar mereka dapat siaran kembali. Pertimbanganku pada Candi, kita harus menolong masyarakat yang masih bingung dan was-was di jalan-jalan dan di jembatan-jembatan karena sedikitnya informasi yang mereka dapatkan. Dan, Suara Aceh FM, sangat punya potensi untuk menolong dan menenangkan mereka dengan memberikan informasi muatan lokal yang berdasarkan fakta di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi sependapat denganku. Akhirnya Suara Aceh FM kembali mengudara, setelah sempat berhenti beberapa menit. Aku menawarkan diri kepada Candi dan tim Suara Aceh FM lainnya, Misran, Masyudi dan Agus Salim, untuk membantu mengirimkan laporan tentang perkembangan terakhir yang terjadi di beberapa tempat dan mencoba untuk mendapatkan pernyataan resmi dari pihak Polda, Kodam dan Satkorlak tentang bencana gempa terbesar pertama setelah bencana tsunami lalu. Mereka setuju. Lantas, kami memutuskan Candi dan Agus Salim akan bertugas sebagai penyiar di studio, Masyudi keliling kota dengan sepeda motor dan Misran serta aku mengamati kota Banda Aceh dengan kendaraan Internews bersama Ucok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kami pergi ke Polda Nanggroe Aceh Darussalam. Kami tidak berhasil menemui pihak humas atau seseorang yang mau berbicara kepada kami dan menjelaskan hasil pengamatan/patroli mereka terhadap peristiwa gempa beberapa jam lalu. Begitupun halnya dengan Media Center di kantor Infokom dan Satkorlak di gedung Pendopo. Beruntung, di Pendopo itu aku bertemu dengan Mursalin, operator mesin di PLTD –Pusat Listrik Tenaga Diesel- Apung, Pungee Blang Cut, Banda Aceh yang kurang lebih satu jam telah memantau perkembangan ketinggian air di pantai Ulee Lheu dan Lhok Nga (dua daerah yang terkena dampak tsunami paling besar di Banda Aceh). Aku memutuskan untuk mewawancarainya secara langsung untuk Suara Aceh FM. Aku meminta kesediaan Pak Mursalin dan selanjutnya menghubungi studio Suara Aceh FM melalui telepon selularku. Akhirnya aku dan Pak Mursalin –dibantu dengan Misran, mengudara. Aku melakukan wawancara seputar hasil pengamatannya tentang perkembangan terakhir dari posisi air laut di beberapa wilayah pesisir pantai di Banda Aceh. Aku selesai melaporkan untuk Suara Aceh FM. Kurang lebih 4 menit aku mewawancarai langsung Mursalin, sang operator mesin PLTD Apung itu. Di studio sana terdengar suara penyiar Candi Sinaga dan Agus Salim yang mengucapkan terima kasih kepada kami bertiga, sambil menyebutkanku sebagai kontributor dari Internews untuk Suara Aceh FM. Kutersipu mendengarnya...    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pendopo, aku, Misran dan Ucok pergi menuju Kodam Iskandar Muda. Aku berpikir, pasti TNI telah atau sedang melakukan patroli untuk memantau suasana pasca-gempa. Namun, kami diminta untuk mendatangi Kodim setempat sebab menurut petugas jaga di Kodam, pihak Kodim-lah yang melakukan patroli di beberapa wilayah di Aceh pasca-gempa malam itu. Di Kodim, kami mendapat jawaban yang sama. Kami diminta untuk menghubungi pihak Hubdam TNI yang terletak di dekat Pendopo, karena pihak Hubdam-lah yang berwenang untuk memberikan pernyataan resmi kepada pihak lain, termasuk pers.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana kami bertemu dengan seorang tamtama TNI bernama Nur Fajar yang sedang menjadi petugas piket malam itu. Fajar membenarkan bahwa Kodim dan Koramil telah melakukan patroli di beberapa wilayah di Aceh, diantaranya Banda Aceh dan Meulaboh. Namun, Fajar menolak ketika kami memintanya untuk kami wawancarai. Alasannya, ia bukan orang yang berhak memberikan pernyataan kepada pers. Sayangnya, saat itu sang komandan sedang tertidur di pos jaga. Sedangkan Kepala Hubdam sedang berada di kediamannya.Akhirnya kuputuskan untuk tetap memberikan laporan langsung ke Suara Aceh FM dengan bahan penjelasan dari Fajar, sambil mencari taktik untuk tetap bisa mengajak bicara Fajar di tengah laporanku. Dan, &lt;i&gt;alhamdulillah&lt;/i&gt;, petugas Hubdam bernama Fajar itu bersedia untuk bicara ketika aku menyodorkan telepon selularku ke arahnya sambil mempersilahkannya menjawab pertanyaanku. Aku tahu taktik yang kuambil ini terlarang atau paling tidak terbuka untuk diperdebatkan. Namun, kusiap untuk mempertanggungjawabkannya sebagai jurnalis yang menjunjung nilai etika dalam melakukan kegiatan jurnalistik. Dan ... buahnya, banyak informasi penting yang dikemukakan Fajar tentang hasil patroli bersama Kodim dan Koramil di Banda Aceh, Meulaboh dan kabupaten atau kota lainnya di Nanggroe Aceh Darussalam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang waktu terus berputar. Subuh hampir tiba. Jam di telepon selularku menunjukkan pk. 02.50 dini hari. Aku berpikir sudah cukup aku berkeliling Banda Aceh sambil membantu memberikan laporan pandangan mata untuk Suara Aceh FM, dan juga CNN. Laporanku dari Hubdam itu menjadi laporan terakhir yang bisa kusampaikan. Kami –Misran, Ucok dan aku, memutuskan untuk kembali ke Suara Aceh FM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di halaman depan gedung Bulog Aceh –tempat dimana studio Suara Aceh FM didirikan, Misran segera menemui Candi Sinaga dan Agus Salim di dalam ruangan sedangkan aku mampir dulu ke kamar kecil, yang terletak di sayap kanan gedung Bulog itu. Selesai dari kamar kecil, aku sudah disambut Candi dan Agus di depan pintu studio mereka. Di situ juga ada Misran dan Yudi –yang juga telah kembali dari lapangan. Candi Sinaga, selaku pimpinan Suara Aceh FM saat itu –biasanya digilir setiap sekitar dua bulan sekali, mengucapkan terima kasih kepada Internews dan aku pribadi atas bantuan kami. Terima kasih atas bantuan turut memberikan reportase langsung dari lapangan. Terima kasih telah menyajikan informasi yang akurat dan lebih banyak lagi kepada masyarakat pendengar Suara Aceh FM yang berhubungan dengan gempa malam itu, yang sempat membuat masyarakat Banda Aceh, panik. Setidaknya, menurut Candi, dengan tambahan waktu siaran 2 jam ini Suara Aceh FM telah memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan juga pemerintah provinsi dan kota dalam usaha menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Sehingga, paling sedikit dapat meyakinkan masyarakat untuk berpikir jernih dalam mengambil tindakan dan tidak mudah panik karena informasi simpang-siur dan tidak jelas. Aku pun mengamininya. Rasanya terbayar sudah letih yang kami rasakan, ketika mendengar banyaknya perhatian masyarakat terhadap siaran dini hari kami itu yang tercermin dalam hubungan telepon mereka ke studio Suara Aceh FM yang sangat banyak. Ada yang ingin berbagi informasi, ada yang melaporkan baru saja kehilangan sepeda motornya atau pernyataan-pernyataan yang berisi himbauan  mereka kepada masyarakat Aceh lainnya untuk sabar, tenang dan tidak cemas dalam menerima musibah gempa terbesar kedua setelah 26 Desember 2004 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sepertinya segera menjelang. Dan aku pun berpamitan dengan Candi, Agus, Misran dan Yudi. Aku pergi menuju mobil kantor kami, di sana Ucok telah menunggu, pasti dengan kantuk dan lelah. Lambaian tanganku dan mereka menjadi isyarat bahwa Ucok dan aku harus segera meninggalkan  Suara Aceh FM menuju tugas rutin yang sudah menanti, menuju kawasan Geuce, studio Peuneugah Aceh kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir pk. 4.00 pagi. Kami tiba di studio. Cuma ada Agus Rahmad yang sudah tertidur lelap. Beberapa menit kemudian, Ucok dan aku pun segera mengikuti jejaknya. Meskipun gempa yang terjadi beberapa jam lalu itu membuatku harus tetap waspada, tetapi bukan berarti tidak lagi bisa menikmati tidurku seperti hari-hari biasa. Bahkan serasa di tidur malam itu lebih khidmat dari malam-malam sebelumnya... Sebuah tidur sebagai interval. Interval dari perjalanan panjang seorang manusia yang menjadi setetes air dari samudera relawan dan wartawan. Dari mereka yang sedang mendedikasikan waktu dan tenaga untuk ikut menjadi bagian dari proses membangun kembali Nanggroe Aceh Darussalam... Disebabkan oleh gempa dan tsunami itu, kudipertemukan dengan Aceh.. Dari tempatku di Timor Leste –sebuah negeri nun jauh di timur Aceh, WNI ini terbang menuju wilayah paling barat di Republik Indonesia... Aceh.. yang kini telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidupku... dalam suka dan duka... &lt;i&gt;Acheh loen sayang&lt;/i&gt;... begitu kata Rafly, penyanyi Aceh yang sangat terkenal itu, lebih lagi pasca-tsunami... Dan, aku pun terlelap... berharap untuk meraih mimpi tentang Aceh baru nan damai dan tenteram.. Jangan ada lagi konflik, jangan ada lagi airmata... Seperti dialog dalam salah satu agedan film legendaris tentang ksatria Aceh &lt;i&gt;Cut Nyak Dhien&lt;/i&gt; karya &lt;i&gt;Eros Djarot&lt;/i&gt; yang terkenal itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Bek na lee prang&lt;/i&gt;”...., itu yang dikatakan Cut Nyak Dhien kepada seorang anak perempuan yang bertanya kepadanya “apakah aku boleh ikut perang, Cut Nyak?” Perempuan pemimpin asal Meulaboh itu terharu, lalu menjawab “di masamu nanti tidak akan ada lagi perang, anakku...” &lt;i&gt;Bek na lee prang&lt;/i&gt;... Jangan ada lagi perang.. jangan ada lagi konflik bersenjata.. jangan ada lagi darah dan airmata menetes di bumi Serambi Mekkah ini... Semoga tsunami dan kesulitan-kesulitan yang diakibatkannya mempersatukan pihak-pihak yang bertikai... Mari kita ingat kembali apa yang Allah janjikan dalam Qur’an..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sesudah kesulitan itu, ada kemudahan...&lt;br /&gt;Sesungguhnya sesudah kesulitan itu, ada kemudahan... &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Banda Aceh, 30 dan 31 Maret 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-111327466936237517?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/111327466936237517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=111327466936237517&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/111327466936237517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/111327466936237517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/04/penulis-tamu-sehabis-gempa-menjelang.html' title='[Penulis Tamu] Sehabis Gempa Menjelang Pupus Bulan Maret itu Datang....'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-111054940521347691</id><published>2005-03-11T21:12:00.000+08:00</published><updated>2005-04-12T10:58:40.986+08:00</updated><title type='text'>[ON AIR] Sooner or Later</title><content type='html'>&lt;em&gt;Udah lama juga nggak nulis log siaran..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, I'm back on the air tonite. Jadwalnya sekarang pindah-pindah. Seperti biasa, langsung siapin satu lagu spesial buat penutup. Bahkan untuk urusan lagu pun dikenal istilah &lt;em&gt;Safe The Best For Last&lt;/em&gt;.. hehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, malam ini lagu penutup saya adalah .. &lt;a href="http://www.allthelyrics.com/lyrics/alan_parsons/vulture_culture/sooner_or_later-87480-lyric/" target="_blank"&gt;Sooner Or Later - Allan Parsons Project&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oh what a price we pay&lt;br /&gt;For the things we say&lt;br /&gt;And the closer I get to you&lt;br /&gt;The further you move away&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang heran dengan lagu ini. Mereka tak pernah dengar, katanya. Heh.. taunya cuma &lt;em&gt;Eye In The Sky&lt;/em&gt; aja sih.. Gaull ooii.. gaulll... hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;:: Catatan Pasca Siaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyiar juga kudu olahraga. Kudu!! Belakangan ini kalau baca naskah yang panjang, sering ngos-ngosan, dan tarikan nafas terdengar jelas di udara. Mending kalau nafasnya kedengeran seksi .. That's it.. I'm hitting the pool tomorrow.. &lt;em&gt;Byur..!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have a great weekend everybody...!! I know I will..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-111054940521347691?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/111054940521347691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=111054940521347691&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/111054940521347691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/111054940521347691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/03/on-air-sooner-or-later.html' title='[ON AIR] Sooner or Later'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110958266009397108</id><published>2005-02-28T17:22:00.000+08:00</published><updated>2005-03-14T01:46:33.900+08:00</updated><title type='text'>[GapTek]: Mengirim Soundbyte Dengan Handphone *</title><content type='html'>&lt;em&gt;Adalah sebuah kepuasaan --dan pastinya prestasi tersendiri-- bagi seorang reporter radio jika berhasil mengirimkan laporannya dalam jangka waktu yang tidak terlalu jauh setelah peristiwa yang diliputnya itu terjadi. Bukankah kecepatan adalah salah satu kelebihan media radio dibanding media lainnya. &lt;span class="fullpost"&gt;Akan lebih hebat lagi jika laporannya itu dilengkapi dengan soundbyte atau potongan suara, biasanya berupa wawancara atau rekaman suasana, tentunya dengan kualitas suara yang jelas. Lewat tulisan ini saya mencoba berbagi pengalaman tentang bagaimana saya dan beberapa teman berusaha mencari cara paling efektif dan ampuh untuk mengirim laporan plus soundbyte dengan telepon genggam atau handphone. Apa yang kami lakukan ini semua didasarkan pada eksperimen langsung di lapangan. Karena itu jika ada yang punya pengalaman lain, kenapa tidak ikut berbagi disini.. Silahkan tinggalkan komen anda atau email saya di jafmail @ gmail.com. [JaF]&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jakarta, 1998, menjelang kejatuhan seorang penguasa... &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nyaris semua radio siaran mendadak punya reporter dan program laporan langsung dari lapangan. Bahkan radio yang berformat musik pun ramai-ramai mempekerjakan reporter untuk mengirimkan laporan paling hangat dari lapangan di sela-sela hinggar binggar musik yang mereka putar. Saat itu semua yakin akan ada sebuah peristiwa besar. Ada semacam rasa kebersamaan yang tinggi untuk ikut melaporkan detik demi detik perkembangan yang terjadi saat itu. Semua tak ingin tertinggal dalam melaporkan momen-momen bersejarah yang kala itu diharapkan akan mengubah kehidupan bangsa ini, dan kemudian terbukti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan beberapa teman yang saat itu dipercaya untuk mengkoordinir para reporter yang berasal dari sejumlah radio di Jakarta setiap hari memikirkan cara yang paling efektif -dan paling murah untuk kondisi saat itu- guna memaksimalkan kerja reporter-reporter kami yang setiap hari merambah pelosok-pelosok Jakarta dalam melaporkan berbagai peristiwa. Handphone atau telepon genggam yang kala itu baru mulai populer tentu saja menjadi sarana utama meskipun kami juga sempat bereksperimen dengan alat lain, seperti Handy Talkie meski kemudian kami tinggalkan karena kualitas suara yang sering tidak maksimal. Ya sebetulnya banyak alat yang dijual di pasaran untuk keperluan mengirim laporan radio, termasuk dengan satelit. Tapi untuk ukuran saat itu, dan mungkin sekarang, membeli alat seperti itu untuk puluhan reporter bisa membuat bagian keuangan pingsan... Masih untung kalau radio yang bersangkutan tidak bangkrut. Dengan kata lain sangat tidak 'cost wise'. Maka kembalilah kami ke alat yang paling standar: Handphone atau telepon genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim laporan dengan handphone -selanjutnya kita singkat saja menjadi HP- sudah sering dilakukan dan sudah pasti kami pun ikut berlomba mengirimkan laporan secepat mungkin ke stasiun radio masing-masing. Tak puas dengan sekedar laporan, kemudian muncul pertanyaan berikut, yakni bagaimana bisa menggunakan HP untuk juga mengirimkan potongan suara atau soundbyte yang sudah kami rekam dengan tape recorder. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Sistem 'Todong' Langsung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/image001.jpg" width="250" height="181" align="left" vspace="8" hspace="8"&gt;Secara logika sih gampang saja. Tinggal 'todongkan' spiker tape ke bagian mikrofon dari HP. Tapi masalahnya, HP yang menggunakan sistem GSM mengeluarkan sinyal yang sangat mengganggu peralatan elektronik lain di sekelilingnya, termasuk tentu saja tape recorder atau alat perekam lainnya. Saat menangkap sinyal GSM dari HP yang ada di dekatnya, tape recorder akan mengeluarkan suara seperti sinyal terputus-putus yang merusak suara dari tape. Bicara soal sinyal ini, pernah ada teman dari radio yang nelat menodongkan HP nya saat tengah melakukan interview bersama. Hasilnya semua alat rekam dan juga kamera dari reporter lain terganggu. Bisa ditebak nasib sang reporter radio itu. Memang ada alat perekam digital yang tidak terganggu sinyal GSM, tapi tidak semua. Ada pula jenis HP yang sinyalnya tidak mengganggu yakni yang menggunakan sistem AMPS. Tapi AMPS dulu sangat mahal bahkan kini sudah tidak digunakan oleh provider HP di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke HP GSM. Dari beberapa uji coba, ternyata ditemukan bahwa sinyal dari HP bisa di 'akali' sehingga saat ia di 'todongkan' ke tape recorder tidak akan mengganggu. Saat itu kami bereksperimen dengan HP Siemes dan Nokia. Caranya dengan menutup lubang speaker (yang menempel di telinga). Kini, beberapa beberapa merek HP bisa ditodongkan dan ternyata sinyalnya tidak mengganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Sistem 'Todong' Tidak Langsung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/image002.jpg" align="left" vspace="8" hspace="8"&gt;Masalahnya kemudian, sistem 'todong' langsung ini ternyata tidak menjamin kualitas suara yang bagus karena adanya gangguan suara dari sekeliling. Ini sangat mengganggu, apalagi kalau kita tidak bisa menemukan tempat sepi untuk mengirim laporan. Dari situ muncul ide untuk 'menodongkan' HP ini ke headphone yang tersambung ke tape recorder. Headphone yang digunakan tentu saja bukan model yang diselipkan di telinga. (lihat gambar sebelah kanan). Keuntungan cara ini adalah bahwa ia bisa mengurangi gangguan suara dari sekeliling. Selain itu gangguan sinyal GSM juga bisa diatasi dengan menjauhkan headphone dan tape (lihat gambar di bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/image003.jpg" align="left" vspace="8" hspace="8"&gt;Nah berangkat dari teknik ini, seorang rekan reporter kemudian mencoba cara lain yakni dengan menggunakan handsfree. Caranya hampir sama dengan teknik todong dengan headphone. Bedanya, ia menggunakan handsfree yang kemudian ditodongkan ke speaker tape. Jarak yang jauh antara ujung handsfree dengan handphone ternyata terbukti bisa mengatasi masalah gangguan sinyal GSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini beberapa teknik yang kami gunakan beberapa tahun lalu. Ketika berkesempatan untuk kembali meliput ke lapangan di Jakarta, saya menemukan bahwa ternyata banyak rekan reporter radio yang mengirim soundbyte dengan cara langsung menodongkan ke tape (lihat gambar pertama di atas). Ini berlaku untuk beberapa handphone yang ternyata sinyalnya tidak terlalu mengganggu, meskipun banyak juga yang masih seperti HP dulu. Dari ngobrol dengan para reporter itu, mereka ternyata memilih untuk mengirim dengan sistem 'todong langsung' ini semata karena alasan praktis dan supaya lebih cepat saja. Maklum persaingan sudah semakin tinggi. Jadi tidak perlu membawa handsfree atau headphone.Maka ramailah para reporter menggunakan teknik ini, meskipun saat mendengar laporan mereka di radio, tetap saja masih banyak yang kualitas suara soundbytenya tidak bagus bahkan tak sedikit pula yang masih terganggu suara sinyal GSM. Masalahnya, the show must go on, kan..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Communicator *&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/image004.jpg" align="left" vspace="8" hspace="8"&gt;Saat berkesempatan untuk ditugaskan meliput di Jakarta, saya pun membeli HP jenis Nokia Communicator (9210i) bekas untuk menggantikan HP Nokia 6510 saya. Pertimbangannya cuma satu. yakni dia bisa menyimpan data yang banyak. Bahkan kenyamanan papan ketiknya saya harapkan bisa membantu untuk mengetik skrip langsung di lapangan dan bisa langsung dikirim lewat email. Harus diakui, harganya masih mahal, sekitar 5 juta rupiah. Namun saya membeli yang bekas dengan harga hampir separuhnya, sekitar 2,6 juta rupiah. Saya tidak menyesal membeli HP jenis ini karena terbukti sangat handal bahkan bisa saya kembangkan untuk lebih dari sekedar mengetik skrip dan email. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/image005.jpg" align="left" vspace="8" hspace="8"&gt;Nokia Communicator ternyata memiliki fungsi perekam dengan durasi yang sangat panjang, tergantung berapa besar memory card yang digunakan. Dengan membeli memory card 128Mb, saya bisa merekam sampai 2 jam lebih (namun jangan lupa untuk mematikan handphone terlebih dahulu sebelum merekam agar tidak terganggu sinyal GSM). Yang menarik karena ia juga bisa digunakan untuk mengedit walau sangat sederhana. Selanjutnya dengan bermodal handsfree saya tinggal mengirim laporan dan memutar soundbyte yang sudah saya rekam ke communicator dengan lancar tanpa adanya gangguan suara luar yang berarti. Bahkan saya pun bisa mengirim laporan sambil membaca skrip yang sudah diketik di HP tersebut. Canggih dan sangat layak untuk menjadi investasi setiap reporter radio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada uang lebih, anda juga bisa menunggu seri communicator terbaru dari nokia, yakni nokia 9500 ***. Ini lebih canggih lagi, bahkan sudah dilengkapi dengan GPRS. Siapa tahu kita juga bisa mengirim soundbyte dalam bentuk mp3 melalui email. Sebuah fungsi yang sebenarnya bisa dilakukan di 9210i, namun minta ampun lambatnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;* Artikel ini pertama kali muncul di situs &lt;strong&gt;offmike.typepad.com&lt;/strong&gt; pada 23.07.2004. Situs tersebut sudah almarhum (ngggak kuat bayar.. hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Saya akan bahas lebih rinci mengenai cara memaksimalkan penggunaan Nokia Communicator bagi keperluan reporter radio dalam artikel lain (Begitu saya tahu bagaimana cara meng 'capture' gambar di layar komunikator saya hehe.. ada yang tahu caranya?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Beberapa bulan setelah tulisan ini saya buat, Nokia 9500 sudah keluar dan saya beruntung dapat kesempatan mencobanya selama beberapa minggu. Hebat dan lebih canggih. Sayang saya belum sempat mencoba proses pengiriman soundfile dengan GPRS.. Nantilah kalau sudah terbeli.. hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110958266009397108?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110958266009397108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110958266009397108&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110958266009397108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110958266009397108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/02/gaptek-mengirim-soundbyte-dengan.html' title='[GapTek]: Mengirim Soundbyte Dengan Handphone *'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110812004488743332</id><published>2005-02-11T18:40:00.000+08:00</published><updated>2005-02-28T17:21:41.233+08:00</updated><title type='text'>[Ah Teori..] Nuim dan Kewajaran</title><content type='html'>Saya lagi 'spring cleaning' alias mensortir arsip-arsip lama ketika menemukan beberapa makalah dari sebuah seminar yang pernah saya ikuti di tahun 1995 yang bertemakan Bahasa Siaran. Diantara sekian banyak makalah, ada satu yang menarik perhatian saya. Makalah ini ditulis oleh &lt;a href="http://www.radioaustralia.net.au/indon/aboutus/nuim.htm" target="_blank"&gt;Nuim Khaiyath&lt;/a&gt;. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia dikenal sebagai seorang 'broadcaster' senior dan sampai sekarang masih aktif di Radio Australia. Namun bagi saya dan pastinya juga bagi banyak orang radio lainnya, dia adalah legenda. Di mata saya -lebih tepat lagi di telinga saya- Bang Nuim adalah seorang 'born broadcaster', seorang penyiar sejati. &lt;br /&gt;Kehebatan seorang Nuim adalah kemampuannya bertutur ditambah pengetahuannya yang luar biasa, sehingga dia juga dijuluki 'sang kamus berjalan'. Tutur katanya tegas, lugas, kocak tapi bijak dan sarat dengan pengetahuan. Seorang penutur, seorang tukang cerita sejati yang punya kesan tersendiri di hati para pendengarnya, dan beruntung sekali bahwa seminar tersebut adalah kesempatan pertama saya bertatap muka langsung dengan beliau. (Lebih beruntung lagi karena saya sempat bertanya jawab di udara -walau singkat saja- dengan beliau saat saya meliput debat presiden beberapa tahun silam untuk salah satu jaringan radio di Jakarta). Maka jadilah saya yang kala itu masih penyiar baru -istilah koboinya 'greenhorn'- dibuat terbengong-bengong dengan presentasi makalah beliau yang disampaikan sebagaimana layaknya sedang siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang saya pelajari dari seorang Nuim Khaiyath. Salah satunya adalah bahwa suara yang bagus saja tidak cukup untuk menjadi seorang penyiar. Seorang penyiar harus mempunyai kepribadian yang bisa meliputi kemampuan bertutur yang jelas, bahasa yang bisa dipahami (jangan terjebak pada pemahaman berbahasa Indonesia yang baik dan benar), pengetahuan yang luas dan masih banyak lagi. Namun pelajaran terpenting dari seorang Bang Nuim yang hingga kini selalu saya pegang teguh adalah bersikaplah yang wajar. Seperti saya kutip dari makalahnya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Kita ini sebenarnya adalah manusia yang ingin menceritakan kisah tentang manusia, kepada pendengar yang juga manusia. Adalah kewajiban kita untuk terdengar sebagai manusia.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya lampirkan makalah yang disampaikannya di tahun 1995 silam itu. Semoga bermanfaat, sebagaimana ia juga bermanfaat buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(catatan: mohon maaf, naskah ini saya scan dari naskah aslinya yang diketik dan semua berhuruf besar/capital. Namanya penyiar, bahkan makalah pun diketik dengan gaya siaran..hehe..) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan klik &lt;a href="http://jafsradio.blogspot.com/1995/03/makalah-nuim-khaiyath.html"&gt;DISINI&lt;/a&gt; untuk membaca makalah Bang Nuim tersebut yang berjudul &lt;a href="http://jafsradio.blogspot.com/1995/03/makalah-nuim-khaiyath.html"&gt;BAHASA INDONESIA YANG BENAR DAN BAIK DALAM KERANGKA ERFEKTIFITAS PENYAMPAIAN PESAN KEPADA PENDENGAR RADIO&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110812004488743332?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110812004488743332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110812004488743332&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110812004488743332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110812004488743332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/02/ah-teori-nuim-dan-kewajaran.html' title='[Ah Teori..] Nuim dan Kewajaran'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110761092779445001</id><published>2005-02-05T20:53:00.000+08:00</published><updated>2005-02-11T20:45:33.363+08:00</updated><title type='text'>[ON AIR] Mimpi: Nobody's Perfect</title><content type='html'>&lt;i&gt;Yup, siaran lagi nih. Gantiin temen.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu saya selalu berusaha.. sekali lagi berusaha untuk memisahkan antara sebuah lagu dan penyanyinya. Mungkin karena saya banyak suka dengan lagu-lagu yang bagus, namun ternyata kemudian saya -secara subjektif- mendapati bahwa sang penyanyinya tidak se 'bagus' lagunya. &lt;span class="fullpost"&gt;Saya misalnya suka semua lagu John Lennon, tapi tak terlalu nge fans sama si oom John ini. Sama halnya dengan Freddy Mercury dan Queen nya, Van Halen, George Michael, Elton John, Jon Bon Jovi, Allanis Morrisete, sampai Robbie Williams dan masih banyak lagi. Saya hanya suka lagu-lagu mereka, tapi memilih untuk tidak nge-fans sama penyanyinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hey, nobody's perfect.."&lt;/i&gt;, seorang teman selalu protes dengan kebiasaan saya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Exactly!! Persis!"&lt;/i&gt;. Justru karena tidak ada manusia yang sempurna, maka saya memilih untuk menyukai karyanya saja dan bukan orangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, siaran ekstra malam ini saya persembahkan kepada lagu "&lt;strong&gt;Mimpi&lt;/strong&gt;" dari &lt;strong&gt;Anggun C. Sasmi&lt;/strong&gt;. Sebuah lagu spesial yang selalu berhasil melontarkan saya ke suatu saat di masa lalu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan Pasca Siaran:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mau tahu kenapa penyiar radio itu rata-rata cerewet dan banyak bicara? Itu karena justru saat siaran omongan mereka selalu dibatasi oleh waktu.. hehehe... [&lt;i&gt;jawaban untuk seorang teman pendengar yang baru telepon dan menanyakan kenapa saya jauh lebih cerewet di telepon..&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110761092779445001?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110761092779445001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110761092779445001&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110761092779445001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110761092779445001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/02/on-air-mimpi-nobodys-perfect.html' title='[ON AIR] Mimpi: Nobody&apos;s Perfect'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110752648684675442</id><published>2005-02-04T22:08:00.000+08:00</published><updated>2005-02-05T22:20:13.416+08:00</updated><title type='text'>[ON AIR] Moonshadow</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a href="http://catstevens.com/discography/songs/00107.html" target="_blank"&gt;Moonshadow - Cat Stevens&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;. Ini lagu spesial untuk penutup siaran malam ini. Lagu yang banyak disebut sebagai memiliki lirik yang misterius karena macam-macam orang berusaha menebak maknanya, tapi nggak pernah ada yang tahu. Buat saya pribadi, setiap kali membaca ulang lirik lagu ini, selalu ada penafsiran yang berbeda. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon Cat Stevens sendiri sangat suka dengan lagunya yang satu ini. Konon pula lagu ini bercerita tentang seekor kucing yang kakinya patah, tapi tak pernah mau menyerah. Konon.. konon..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan pasca siaran:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, siaran malam ini agak 'kosong'. Apa karena capek atau karena hal lain? Entah lah.. &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110752648684675442?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110752648684675442/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110752648684675442&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110752648684675442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110752648684675442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/02/on-air-moonshadow.html' title='[ON AIR] Moonshadow'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110751167706526408</id><published>2005-02-03T18:07:00.000+08:00</published><updated>2005-02-04T22:16:28.880+08:00</updated><title type='text'>[Ah Teori] Mmm…</title><content type='html'>Dunia radio sekarang sangat terbantu dengan piranti-piranti lunak pengeditan suara/sound editing seperti &lt;a href=http://www.adobe.com/special/products/audition/syntrillium.html target=”_blank”&gt;cool edit&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.digidesign.com/ptfree/" target="_blank"&gt;pro tools&lt;/a&gt;, atau &lt;a href="http://dalet.com/radio.html" target="_blank"&gt;dalet&lt;/a&gt;. Dengan piranti semacam ini, mengedit musik,  hasil wawancara atau produksi program menjadi sangat mudah. Namun sayangnya kemudahan-kemudahan ini seringkali menghilangkan 'jiwa' dan 'seni' dari sebuah produksi radio.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling gampang adalah dalam mengedit hasil wawancara. Sejak lama seolah ada semacam 'kesepakatan' di kalangan praktisi radio siaran bahwa bunyi-bunyi seperti seperti "mmm..." atau suara menarik nafas adalah suatu hal yang mengganggu dan harus dibuang agar hasil wawancara nampak lebih bagus dan lancar atau juga demi pertimbangan durasi yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sebenarnya sih bebas-bebas saja. Tapi saya termasuk yang memilih untuk tidak setuju dengan teknik semacam ini. Bagi saya, yang harus ditampilkan dari wawancara dengan nara sumber bukan saja isi wawancara itu sendiri tapi juga sosok si nara sumber secara utuh dan itu tercermin dari gaya bicaranya. Bayangkan apa jadinya kalau suara sosok mantan Mensesneg Moerdiono di edit unsur 'mmm..' nya? Bukan Moerdiono lagi karena memang itulah ciri khas Pak Moer kalau sedang bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada pertimbangan lain yakni durasi. Lagi-lagi saya ambil sosok Moerdiono. Sosok seperti Pak Moer ini kalau bicara memang sangat boros durasi karena bicaranya yang lambat dan penuh dengan 'mmm...'. Itu harus diakui. Tapi ketimbang membuang ciri khas 'mmm..' nya yang terkenal itu demi kepentingan durasi, saya memilih untuk memotong lebih banyak hasil wawancara dengannya dan memindahkan sisanya ke dalam naskah siaran yang nanti dibacakan oleh penyiar atau narator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Moerdiono yang jadi contoh? Ini karena dalam pengalaman saya di dunia radio, beliau ini termasuk pemegang 'rekor' 'mmm...' terbanyak. Bicaranya pun cenderung lambat dan tak jelas. Jadi sangat tepat untuk menjadi contoh ekstrim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, saya percaya bahwa yang namanya wawancara itu bukan sekedar isi dari apa yang diucapkan si nara sumber tapi juga 'bunyi-bunyi' lain yang seringkali dianggap mengganggu dan perlu dibuang tapi tidak buat saya. Saya percaya bahwa menampilkan suara si nara sumber seperti apa adanya adalah jauh lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saat geng Cendana masih berkuasa, mendapatkan wawancara dengan putra-putri si 'babeh' sangat amat susah. Nah, kebetulan waktu tugas di DPR, saya dan teman-teman pernah nekat sok akrab mencoba mendekati Mbak Tutut untuk minta statement beliau tentang jalannya sidang MPR yang sedang berlangsung. Si mbak cuma menghela nafas disusul kata-kata 'Opo toh?'. Kecewa? Ndak juga. Justru buat ukuran wartawan radio pemula seperti saya waktu itu, helaan nafas si mbak menjadi sesuatu yang berharga. Kebetulan tape recorder saya dekat sekali dengan si mbak itu hingga suaranya terdengar jelas. Maka jadilah suara helaan nafas dan 'opo toh?' itu menjadi bagian dari program saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat bagian dari naskah program saya yang menyertakan suara Mbak Tutut itu. Kurang lebih begini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;..ketika dimintai pendapatnya, Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut enggan memberikan komentar..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sot: hehhhh... opo toh?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma itu yang diucapkan, tapi rasanya sudah cukup mewakili sosok si mbak. Paling tidak saya merasa pernah mewawancarai beliau dan tak di telepon sama kodim pula.. &lt;i&gt;hehehe&lt;/i&gt; **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Catatan:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal software sound editing, saya baru menemukan software sound editor yang sederhana tapi lumayan ampuh dan gratis. Itu yang paling penting! Namanya WAVEPAD. Bisa edit macam-macam format (wav, mp3, aiff dll.), bisa rip dari CD, ada sound effect yang lumayan dan juga bisa burn hasilnya ke cd. Saya sudah download dan lagi mencoba. Mungkin nanti saya tulis di sini. Kalau mau download, silahkan ambil di &lt;a href="http://www.nch.com.au/wavepad/" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selamat mencoba!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110751167706526408?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110751167706526408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110751167706526408&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110751167706526408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110751167706526408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/02/ah-teori-mmm.html' title='[Ah Teori] Mmm…'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110666037759529450</id><published>2005-01-25T21:38:00.000+08:00</published><updated>2005-02-04T18:07:13.810+08:00</updated><title type='text'>[ON AIR] Open Arms</title><content type='html'>Saya punya kebiasaan selalu menyiapkan satu lagu ekstra spesial untuk tutup siaran. Biasanya lagu itu mewakili mood siaran. Tapi lebih sering lagu itu saya putar sebagai semacam  &lt;i&gt;tribute&lt;/i&gt; kepada musisi dan lagu yang saya sukai. Rasanya kalau salah pilih, siaran 2 jam jadi terasa sia-sia. hehe. Nah sewaktu sedang mengacak-acak rak CD, saya sempat kaget karena menemukan lagu 'Open Arms'-nya Journey di rak CD. &lt;span class="fullpost"&gt; Tapi yang satu ini dinyanyikan sama Mariah Carey. Saya bukan fans berat si Mbak yang satu ini. Tapi berhubung lagunya Journey, iseng saya coba dengar. Wuah.. kalau orang melayu bilang "Boleh Tahan Lah..". Tapi tetap saja saya 'tak rela' memutarnya untuk lagu penutup, apalagi ketika saya pun menemukan satu lagu lagi yang juga menarik perhatian saya. Akhirnya siaran hari ini saya 'persembahkan' kepada Chicago dengan salah satu favorit saya Dream A Little Dream of Me ! &lt;i&gt;There you go..&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;So&lt;/i&gt;, inilah &lt;i&gt;play List&lt;/i&gt; malam ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Ku Tak Sanggup-KD (Album Menghitung Hari)&lt;br /&gt;:: Yang Terlupakan-Iwan Fals (Album 14 Best Iwan Fals, Swami, Kantata)&lt;br /&gt;:: Aku Milikmu-Dewa (Album Atas Nama Cinta I)&lt;br /&gt;:: Ku Akui-Dewi Sandra (Album ??)&lt;br /&gt;:: Open Arms-Mariah Carey (Album Day Dream)&lt;br /&gt;:: Dream A Little Dream of Me-Chicago (Album Night &amp; Day Big Band)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, seorang kawan mengirimkan email dan menanyakan kenapa &lt;i&gt;play list&lt;/i&gt; saya pendek sekali. Begini.. Pertama siaran saya cuma dua jam saja. Kedua, siaran saya bukan siaran lagu saja karena juga diseling dengan pemutaran beberapa program yang sudah disiapkan sebelumnya oleh rekan-rekan produser yang lain. Tapi ini justru tantangannya. Yakni bagaimana menyiapkan satu paket siaran selama dua jam yang tidak terkesan terpisah-pisah satu sama lain. Bahasa kerennya 'terintegrasi'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan Pasca Siaran:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;:: Melucu memang salah satu cara ampuh untuk menarik pendengar. Tapi kelewat lucu malah membuatnya jadi tidak lucu! .. hahahahaha!!! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110666037759529450?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110666037759529450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110666037759529450&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110666037759529450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110666037759529450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/01/on-air-open-arms.html' title='[ON AIR] Open Arms'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110656204759850253</id><published>2005-01-24T17:56:00.000+08:00</published><updated>2005-01-25T20:04:55.373+08:00</updated><title type='text'>[RadioNet] Cerita Menarik Di Balik Lagu dan Penyanyinya*</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tahukah anda bahwa lagu 'Hotel California' dari kelompok Eagles pernah di cekal di stasiun radio di sejumlah negara karena lagu ini dianggap sebagai pembenaran pada tindak kekerasan?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda bahwa ada bagian dari lirik 'Stairway to Heaven' yang konon jika diputar secara terbalik akan terdengar pesan yang memuja setan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda bahwa Paul McCartney pernah ribut dengan istri mendiang John Lennon, Yoko Ono, karena ia menuntut namanya ditulis lebih dulu baru disusul nama John Lennon sebagai pencipta lagu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda bahwa kelompok Bee Gees lah yang pertama kali mempopulerkan teknik bernyanyi falsetto lewat lagunya 'Stayin Alive'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah bahwa anda tidak perlu jadi seorang pakar musik untuk tahu semua cerita-cerita menarik di balik sebuah lagu dan penyanyinya itu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.songfacts.com/" target="_blank" vspace="8" hspace="8"&gt;&lt;img src="http://www.songfacts.com/artistfacts/images/songfacts.gif" align="left"&gt;&lt;/a&gt;Memang cerita-cerita di balik sebuah lagu dan penyanyinya selalu menarik untuk diudarakan menemani pemutaran lagu tersebut. Masalahnya, darimana anda bisa mendapatkan cerita-cerita menarik ini? Dari cover kaset atau CD? Tidak semua penyanyi punya kesadaran untuk mencantumkan cerita menarik di balik lagu mereka pada cover kaset atau CD kecuali hanya data penulis lagu dan tahun lagu itu di produksi. Dari majalah atau buku-bukui musik? Ya ini salah satu alternatif yang bagus. Music Director di radio tempat saya bekerja dulu di Jakarta, selalu rajin berburu majalah-majalah musik terbitan luar negeri, khususnya majalah Rolling Stones dan Billboard dari pedagang-pedang buku loak. Tak jarang ia pun menemukan banyak buku-buku bagus tentang musik. Maklum membeli yang baru harganya pasti mahal. Ia pun rajin menerjemahkan dan menulis naskah singkat yang berisi cerita menarik tentang sebuah lagu atau kelompok musik untuk kemudian dapat dipergunakan oleh penyiar yang bertugas sebagai materi siaran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.artistfacts.com/" target="_blank" vspace="8" hspace="8"&gt;&lt;img src="http://www.songfacts.com/images/artistfacts.gif" align="right"&gt;&lt;/a&gt;Tapi dijaman serba internet sekarang ini rasanya tak susah untuk mencari informasi yang dimaksud. Bahkan ada satu situs internet yang secara khusus mengumpulkan cerita-cerita tentang sebuah lagu. Alamatnya ada di www.songfacts.com. Anda tinggal masuk ke sana, ketikkan nama lagu yang anda ingin cari dan... simsalabim! muncullah cerita-cerita singkat tentang lagu tersebut. Selanjutnya tinggal terjemahkan dan kemudian jadikan naskah siaran anda, baik untuk sekedar dibacakan sebagai pengantar memutar sebuah lagu atau untuk kuis di acara anda. Hal yang sama juga bisa anda dapatkan jika anda mengakses ke www.artistfacts.com. Bedanya, situs ini khusus memajang cerita tentang penyanyi atau grup musik tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kedua situs itu anda juga dapat mendaftarkan diri dengan mengklik icon Register. Manfaatnya, anda dapat meminta cerita tentang lagu atau penyanyi yang tidak atau belum tercantum dalam situs itu. Anda juga dapat menyumbangkan informasi yang anda miliki ke situs tersebut, dan mereka akan mengakui nama anda sebagai penulis.&lt;br /&gt;Sayangnya... semua data yang tersedia di kedua situs itu melulu tentang lagu-lagu 'bule' dan belum memuat lagu anak negeri sendiri. Toh rasanya ini bukan masalah karena radio di Indonesia masih banyak yang memutar lagu barat ketimbang lagu negeri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, situs ini harus bisa memberi ide kepada anda untuk memulai mendata cerita menarik di balik lagu dan artis-artis Indonesia. Bisa diambil dari majalah, tabloid, koran atau berdasarkan wawancara langsung dengan sang artis. Tidak usah terlalu ngotot. Cukup satu atau dua cerita dalam sehari, syukur kalau bisa lebih. Berani taruhan, beberapa tahun kemudian data yang anda kumpulkan akan menjadi sangat berharga dan akan dicari semua orang. Coba deh..! Kenapa tidak!? [JaF]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ulasan situs: &lt;a href="http://www.songfacts.com/" target="_blank"&gt;www.songfacts.com&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.artistfacts.com/" target="_blank"&gt;www.artistfacts.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110656204759850253?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110656204759850253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110656204759850253&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110656204759850253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110656204759850253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/01/radionet-cerita-menarik-di-balik-lagu.html' title='[RadioNet] Cerita Menarik Di Balik Lagu dan Penyanyinya*'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110655178966813015</id><published>2005-01-24T15:27:00.000+08:00</published><updated>2005-01-24T18:27:46.306+08:00</updated><title type='text'>[Esai] Propaganda?</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Wah, ente sekarang jadi agen propaganda nih?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Propaganda! Sudah lama saya tak mendengar kata-kata ini sampai seorang teman lama, entah bercanda entah serius, tiba-tiba menggunakan kata ini ketika tahu saya bekerja di sebuah radio siaran internasional. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ah, kayak ente nggak aja.."&lt;/em&gt;, itu saja jawaban saya padanya. Maklum ia juga kerja di salah satu lembaga internasional yang salah satunya bergerak di bidang training atau bahasa kerennya 'pemberdayaan' untuk radio-radio di Indonesia. &lt;em&gt;"Gue sih nyari duit aje, bos..!"&lt;/em&gt;, balasnya sambil 'nyengir'. Pembicaraan soal propaganda berakhir prematur sementara saya terus saja terganggu dengan istilah ini. Apa yang salah dengan propaganda?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Propaganda: Sebuah proses penyebaran doktrin atau informasi yang merefleksikan pandangan atau kepentingan dari mereka yang menyebarkannya. Ini penjelasan versi dictionary.com. Sementara menurut ensiklopedi Brittanica, istilah propaganda sendiri mulai dikenal dari hasil karya Congregatio de Propaganda Fide', sebuah organisasi yang didirikan oleh sejumlah Kardinal Katolik Roma di tahun 1622 untuk menjalankan penyebaran misi ajaran mereka di negara-negara non kristen. Jadi bagi beberapa kalangan, propaganda ini terkait dengan misi keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Terimakasih' kepada Adolf Hitler, istilah ini kemudian mendapat konotasi negatif. Di bab 6 dari bukunya "Mein Kampf", Hitler menuliskan perlunya propaganda untuk mempersuasi pihak lain, untuk menggerakan massa. Saking percayanya, Hitler sampai menunjuk seorang menteri khusus untuk urusan propaganda ini. Namanya Joseph Goebbels. Jabatannya: Menteri Urusan Propaganda dan Pencerahan Nasional. (kata pencerahan ini menarik karena mengingatkan saya pada salah satu departemen yang dulu ada di Indonesia yang tugasnya juga melakukan pencerahan alias penerangan.. hehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas utamanya Goebbels dan Departemennya ada dua: Pertama, memastikan tak ada orang di Jerman yang punya akses kepada hal-hal yang bisa merusak kepentingan atau misi Nazi. Kedua, memastikan bahwa misi dan pola pandang Nazi berhasil disebarkan dengan cara yang se persuasif mungkin. Untuk menjamin kelancaran tugasnya itu, Goebbels di bantu oleh SS dan Gestapo yang tak lain adalah satuan polisi yang paling ditakuti di jaman Nazi. Namanya polisi, tugasnya pasti sudah jelas lah. Selain dengan SS dan Gestapo, Goebbels juga dibantu oleh sosok orang yang bernama Albert Speer yang kemudian dikenal sebagai salah satu penjahat perang paling kejam dari masa Nazi. Speers ini yang konon ditugaskan melakukan penyebaran ajaran Nazi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ini yang mungkin membuat saya merasa 'terganggu' dengan istilah propaganda karena mengingatkan saya pada jaman-jaman Hitler dan juga jaman-jaman orde baru dimana kegiatan ini memang sangat kental mewarnai kehidupan masyarakat. Jadi 'kangen' Pak Harmoko juga.. :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kembalilah pada artian dasar dari propaganda (dan buang jauh bayangan Hitler atau mungkin Pak Harmoko), maka kita akan menemukan kenyataan bahwa sebetulnya setiap hari kita dikelilingi oleh praktek propaganda. Media adalah salah satu yang menjalankan praktek ini. Sekali lagi buang jauh-jauh muka 'Jojon' ala Jerman di benak anda, dan anda akan menyadari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk orang yang tidak terlalu percaya pada konsep media bebas, apalagi kalau sudah di embel-embeli dengan kata "yang bertanggung jawab". Setiap hari, setiap saat kita melakukan propaganda terhadap hal-hal yang kita percayai, dan ingin agar orang lain juga mempercayai. Ia bisa berupa nilai-nilai politik, nilai agama, etika sampai ke hal sehari-hari seperti memilih sabun cuci mana yang lebih bisa mencuci sendiri, atau shampoo mana yang bisa membuat rambut anda melayang-layang dengan indahnya ditiup angin. Semua sibuk berpropaganda. Yang membedakan hanyalah pada cara mereka mengemasnya. Sebut satu media saja yang tidak melakukan propaganda, dan saya akan merubah semua apa yang saya percayai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kembali pada pertanyaan awal saya, "Apa yang salah dengan propaganda?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dikaitkan dengan apa yang dilakukan Hitler, mungkin wajar saja saya terganggu. Tapi kalau dikaitkan dengan sebuah proses penyebaran informasi yang merefleksikan suatu pandangan tertentu dari si penyebar informasi, rasanya sah-sah saja. Saya selalu percaya bahwa di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang selalu berusaha untuk membuat orang percaya pada apa yang ia percayai, karena seringkali ia sendiri tidak percaya diri dengan apa yang dipercayainya sampai kemudian ada yang ikut percaya pada apa yang dipercayanya. Bingung? Coba ulang kalimat terakhir tadi.. &lt;br /&gt;Jadi kenapa mesti terganggu dengan istilah propaganda? Mungkin karena sudah terlalu lama kita terjebak dalam istilah-istilah yang kita buat sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin akan lebih aman mengutip kata-kata teman saya di awal tadi: &lt;em&gt;"Gue sih nyari duit aje, bos..!"&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jangan ah...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura, 14 Oktober 2003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110655178966813015?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110655178966813015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110655178966813015&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110655178966813015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110655178966813015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/01/esai-propaganda.html' title='[Esai] Propaganda?'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110612988759209794</id><published>2005-01-19T18:17:00.000+08:00</published><updated>2005-01-24T15:47:21.696+08:00</updated><title type='text'>Bismillah!</title><content type='html'>Dunia Radio Siaran adalah sumber nafkah saya dan keluarga selama lebih dari 12 tahun terakhir. Lebih dari itu, radio siaran adalah 'pacar' yang paling setia dan paling saya sayangi &lt;i&gt;hehe...&lt;/i&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;Karena itulah dari beberapa tahun silam saya selalu diganggu oleh angan-angan untuk memiliki website sendiri yang bisa saya persembahkan kepada pekerjaan yang paling saya sukai ini. Nah, setelah penat berencana yang muluk-muluk, saya akhirnya mencoba memulai dengan sesuatu yang sederhana. Lahirlah weblog ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah saya akan simpan semua pengalaman dan pemikiran saya tentang dunia radio, termasuk sebuah rangkaian tulisan -yang lagi-lagi saya angankan kelak akan bisa menjadi sebuah buku- tentang serba-serbi dunia penyiaran radio. Saya hanya ingin agar pengalaman saya ini tidak terbuang sia-sia. Saya hanya ingin berbagi pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bismillah&lt;/i&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110612988759209794?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110612988759209794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110612988759209794&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110612988759209794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110612988759209794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/2005/01/bismillah.html' title='Bismillah!'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10252619.post-110812632521802338</id><published>1995-03-29T20:50:00.000+08:00</published><updated>2005-02-11T20:57:20.750+08:00</updated><title type='text'>Makalah Nuim Khaiyath</title><content type='html'>&lt;strong&gt;BAHASA INDONESIA YANG BENAR DAN BAIK DALAM KERANGKA ERFEKTIFITAS PENYAMPAIAN PESAN KEPADA PENDENGAR RADIO&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH: &lt;br /&gt;NUIM KHAIYATH, RADIO AUSTRALIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*DISAMPAIKAN DALAM "SEMINAR BAHASA SIARAN – PRSSNI" - HOTEL KARTIKA PLAZA, JAKARTA, 29 MARET 1995 &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Catatan: &lt;/strong&gt;mohon maaf, naskah ini saya scan dari naskah aslinya yang diketik dan semua berhuruf besar/capital. Dasar penyiar, bahkan makalah seminar pun diketik dengan gaya bak hendak siaran..hehe.. (JaF)&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASS.W.W. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERLEBIH DAHULU SAYA INGIN MENGUCAPKAN RIBUAN TERIMAKASIH KEPADA PIHAK PENYELENGGARA SEMINAR BAHASA SIARAN RADIO, PERSATUAN RADIO SIARAN SWASTA NASIONAL, INDONESIA ATAS UNDANGAN YANG DISAMPAIKAN TIDAK SAMPAI DUA PEKAN LALU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOLEH DIKATAKAN, BEGITU UNDANGAN ATAU TAWARAN DISAMPAIKAN, LANGSUNG SAYA TERIMA, LAKSANA IKAN MENYAMBAR UMPAN JINAK DI AIR TENANG, LAKSANA GAYUNG BERSAMBUT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATAU KATA ORANG MEDAN: INI CAN BAIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBABNYA IALAH, SAYA MEMANG PUNYA MINAT KHUSUS TERHADAP KEINDAHAN BAHASA, TERUTAMA BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA DIBESARKAN DALAM KELUARGA, YANG KENDATI TIDAK SERATUS PERSEN MELAYU ATAU INDONESIA –KARENA AYAH SAYA (ALLAHYARHAMU) ADALAH ORANG TIMUR TENGAH – NAMUN IBU SAYA (ALLAHYARHAMHA) ADALAH MELAYU ASLI, MELAYU DELI, DAN KARENANYA KAMI TERUS DIDORONG AGAR MENGGUNAKAN BAHASA MELAYU YANG BENAR DAN BAIK – SEBABNYA IALAH: BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APALAGI SUMBER BAFKAH SAYA ADALAH RADIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAIMANA SAMA KITA KETAHUI, ADA YANG MENGATAKAN, MATA PERCAYA PADA DIRI SENDIRI, SEDANGKAN KUPING PERCAYA PADA ORANG LAIN. INI MERUPAKAN PERINGATAN TEGAS SEKALI, AGAR KITA JANGAN TERLALU CEPAT PERCAYA TERHADAP APA YANG KITA DENGAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANYA, DALAM HAL INI YANG DIMAKSUDKAN, BARANGKALI, ADALAH MENDENGAR OMONGAN ORANG LAIN, ORANG YANG SUKA BERPANJANG MULUT, MENYEBARKAN DESAS-DESUS YANG TIDAK ADA DASARNYA DAN TIDAK DAPAT DIPERTANGGUNG JAWABKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMUN SEBAGAI SEORANG MUSLIM, BIARPUN AWAM, SAYA JUGA BERPEGANG PADA SEMBOYAN "SAMI' NA WA ATA' NA" – KAMI DENGAR DAN KAMI PATUHI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI SEORANG PENYIAR RADIO, YANG SAYA USAHAKAN ADALAH BAGAIMANA AGAR ORANG BUKAN SAJA BERSEDIA MENDENGAR ATAU MENGIKUTI SIARAN/ ACARA SAYA, KHUSUSNYA, MELAINKAN JUGA SEKALIGUS MEMPERCAYAINYA, TERHIBUR OLEHNYA DAN KALAU MUNGKIN TERKESAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI SEJAK AWAL SAYA MEMANG SUDAH BERTEKAD UNTUK MEMPERTAHANKAN BAHASA YANG BENAR DAN BAIK – DALAM HAL INI PENILAIAN BENAR DAN BAIK ITU TENTU SAJA SECARA SUBJEKTIF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA AKHIRNYA, BATU UJIAN YANG PALING MENENTUKAN IALAH: APAKAH SEGALA YANG SAYA SIARKAN – MAKSUDNYA SAMPAIKAN DENGAN UCAPAN YANG MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA DAPAT LANGSUNG DIPAHAMI OLEH PENDENGAR SAYA, DAN DINIKMATI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK AYAL LAGI, PERANAN BAHASA YANG DIPERGUNAKAN DALMA HAL INI SUNGGUH SANGAT MENENTUKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHASA, SEBAGAIMANA SAMA KITA KETAHUI, PALING TIDAK MENURUT KAMUS MODERN BAHASA INDONESIA SUSUNAN ST. MOHAMMAD ZEIN ADALAH ALAT UNTUK MENYATAKAN PIKIRAN DAN PERASAAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMUN, BAHASA JUGA DAPAT DIMANFAATKAN UNTUK MENYEMBUNYIKAN PIKIRAN DAN PERASAAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHASA INDONESIA, SEBAGAI MANA SUKA KITA GEMBAR-GEMBORKAN, ADALAH BAHASA PERSATUAN –SATU NUSA, SATU BANGSA, SATU BAHASA – INDONESIA. YANG DASARNYA ADALAH BAHASA MELAYU TANG DIKATAKAN SEBAGAI BAHASA EGALITER –SENASIB SEPENANGGUNGAN, SAMA RATA, SAMA RASA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI KAMI YANG BEKERJA PADA BADAN-BADAN SIARAN LUAR NEGERI, HARUS LEBIH AWAS LAGI MENGENAI UNSUR KENASIONALAN BAHASA INDONESIA. KAMI TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN BAHASA LOKAL, ATAU UNGKAPAN ATAU KIASAN ATAU IDIOM LOKAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN SAMPAI TONGKAT MEMBAWA REBAH – HANYA KARENA HENDAK TERDENGAR PINTAR DAN BIJAK DALAM SUATU MASYARAKAT LOKAL – KARENA TIDAK MAU KETINGGALAN ZAMAN –TAHU-TAHU MALAHAN MEMANCING PERMUSUHAN DALAM MASYARAKAT LAIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JELAS, KENDATI BAHASANYA SAMA, NAMUN PENGERTIAN DARI SEMENTARA PERKATAAN ATAU UNGKAPAN, DAPAT BERBEDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH SEBAB ITULAH ORANG INGGRIS SUKA MENGATAKAN, YANG LAMBAT LAUN AKAN MEMISAHKAN BRITANIA RAYA DARI AMERIKA SERIKAT –DAN KANADA – BUKANLAH LAUTAN ATLANTIK, MELAINKAN BAHASA INGGRIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYUKUR ALHAMDULILLAH, DI INDONESIA, KENDATI KONDISI PENDUDUKNYA MEMILIKI PILIHAN –ATAU BERPULUH2 – BAHASA DAERAH SERTA RATUSAN DIALEK BAHASA DAERAH, NAMUN KITA SUDAH MENYATAKAN TEKAD SEJAK TAHUN 1928 UNTUK PUNYA SATU BAHASA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOALNYA SEKARANG IALAH: APAKAH KITA MEMILIKI KEBERANIAN UNTUK MEMPERTAHANKAN IKRAR KITA ITU. KITA HARUS PUNYA KEBERANIAN UNTUK MENGGUNAKAN BAHASA YANG BENAR DALAM SIARAN RADIO KITA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RADIO ADALAH SUATU ALAT ATAU SUMBER INFORMASI DAN HIBURAN YANG LUAR BIASA CANGGIHNYA. KITA DAPAT MENGIKUTI SIARAN RADIO SAMBIL DUDUK-DUDUK MINUM KOPI DAN MAKAN KUE. KITA DAPAT MENGIKUTI SIARAN RADIO SAMBIL MANDI – MASUKKAN TRANSISTORNYA DALAM KANTUNG PLASTIK. IKAT ATAU TUTUP KANTUNG ITU RAPAT-RAPAT DAN BAWA KE KAMAR MANDI, DAN SIRAMILAH BADAN SEPUAS-PUASNYA DENGAN AIR, TANPA KHAWATIR RADIO KITA AKAN BASAH. KITA DAPAT MENGIKUTI SIARNA RADIO SEWAKTU MENYIAPKAN SARAPAN, PAGI, ATAU MERACIK BAWANG MENJELANG SANTAP MALAM. KITA DAPAT MENGIKUTI SIARAN RADIO BAHKAN SEWAKTU MELAKUKAN KEGIATNA GERAK BADAN, JOGGING DAN BAHKAN SAMBIL TIDUR-TIDURAN DENGAN MATA TERTUTUP. &lt;br /&gt;POKOKNYA, RADIO MEMANG MERUPAKAN SARANA PENYAMPAI INFORMASI DAN HIBURAN YANG SERBA MAMPU. SAMBIL BERDESAK-DESAKAN DALAM BIS ATUA KERETA API. SEKARANG BAHKAN MUNGKIN MENGIKUTI SIARNA RADIO SEWAKTU MENGAYUH KERETA ANGIN. MASIH BANYAK LAGI KEADAAN YANG MEMUNGKINKAN SESEORANG UNTUK MENGIKUTI SIARAN RADIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAN RADIO MEMANG MERUPAKAN SUMBER INFORMASI YANG AKRAB ATAU INTIM. ORANG INGGRIS MENYEBUTNYA "PERSONAL".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISINILAH LETAK TANTANGAN YANG DIHADAPI OLEH SETIAP PENYIAR RADIO. BAGAIMANA IA HARUS DAPAT DENGAN SERTA MERTA AKRAB ATAU INTIM DENGAN SESEORANG YANG TIDAK PERNAH DIKENALINYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAN BARANGKALI DI SINI PULALAH LETAK KESALAHAN YANG BANYAK DILAKUKAN PENYIAR RADIOI, TIDAK MUSTAHIL OLEH SAYA SENDIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUDUK DALAM SEBUAH STUDIO, APALAGI SEKARANG INI, DALAM SUASANA RASIONALISME EKONOMI YANG MENGUTAMAKAN PADAT TEKNOLOGI DENGAN MENGORBANKAN MANUSIA – JADI MAKSUDNYA PENYIAR HANYA SEORANG DIRI TANPA DIDAMPINGI ATAU DIBANTU OLEH SEORANG OPERATOR- SANG PENYIAR DITUNTUT UNTUK BERCERITA KEPADA DUA-TIGA ORANG DI DALAM SEBUAH RUANG, DENGAN AKRAB, SEOLAH SUDAH KENAL. PADAHAL, IA SEBATANG KARA DI DALAM STUDIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARUS SAYA AKUI, ADA KECENDERUNGAN UNTUK BERPIDATO, BERDEKLAMASI, KARENA BAGI KEBANYAKAN KITA, MIKROFON PERTAMA YAN G KITA LIHAT ATAU KENAL ADALAH YANG DIPERGUNAKAN OLEH SEORANG ORATOR ATAU PENYANYI. ORATOR DAN PENYANYI MEMANG MENCOBA UNTUK MENCAPAI SEBANYAK &lt;br /&gt;MUNGKIN PENDENGAR SEKALIGUS PADA SATU TEMPAT. SEDANGKAN SEORANG PENYIAR INGIN MENCAPAI BERJUTA-JUTA ORANG, TETAPI TERPECAH-PECAH MENJADI KELOMPOK-KELOMPOK KECIL. BAGAIMANA AGAR KELOMPOK-KELOMPOK KECIL INI MERASA SEAKAN SIARAN KITA ITU HANYALAH UNTUK MEREKA SEMATA. DISINILAH LETAK TANTANGANNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH SEBAB ITULAH, PERLUNYA SIASAT BERCERITA, BUKAN BERPIDATO ATAU BERDEKLAMASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM HAL INI, SEORANG PENYIAR RADIO HENDAKLAH MEMBUANG JAUH-JAUH SEGALA INGATANNYA TENTANG PERKATAAN "SIDANG PENDENGAR" – APAKAH ITU YANG BUDIMAN ATAU HARTAWAN ATAU DERMAWAN. MUNGKIN SAJA MAKSUDNYA BUKAN SEMUA ORANG PADA SUATU WAKTU TERTENTU BERKUMPUL – BERSIDANG- UNTUK MENDENGARKAN SIARAN SDR. NAMUN KESANNYA, MEMANG BEGITU, DAN KARENA BEGITU, DATANG GODAAN UNTUK BERPIDATO, BUKAN BERCERITA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU SAYA MULA-MULA BEKERJA DI RADIO – BRITISH BROADCASTING CORPORATION, LONDON – SAYA DIARAHKAN AGAR MENGIKUTI KURSUS KERADIOAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM RANGKA KURSUS INI, KAMI MENDAPAT KESEMPATAN MENGIKUTI BERBAGAI HASIL KARYA PEMBAWA ACARA, DARI PEMBACA BERITA SAMPAI PADA DISC JOCKEY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA SEBUAH ACARA YANG OLEH PARA PENGIKUT ATAUPUN PESERTA KURSUS DISEPAKATI SEBAGAI YANG PALING MENGESANKAN. ACARA ITU SEBENARNYA LEBIH MERUPAKAN CERITA DARIPADA LAPORAN. YANG SANGAT MENGESANKAN KAMI ADALAH CARA PENYAMPAIANNYA, &lt;br /&gt;PENUTURANNYA, SEAKAN SANG PENYIAR HANYA BERCERITA KEPADA MASING-MASING KAMI, BUKAN KEPADA KAMI SEMUA SEKALIGUS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERNYATA, PENYIAR ITU BUTA –ATAU TUNA NETRA – DAN DALAM MENYIAPKAN NASKAH SIARANNYA, IA MENDIKTEKAN APA-APA YANG HENDAK DISAMPAIKANNYA KEPADA PENDENGARNYA, KEPADA SEKRETARISNYA. KEMUDIAN IA MEMBACAKAN KEMBALI SEGALA IMLAKNYA ITU DALAM HURUF BRAILLE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBENARNYA, DALAM SETIAP KURSUS RADIO, PARA INSTRUKTUR YANG BIJAK SENANTIASA AKAN MENGANJURKAN DENGAN AMAT SANGAT AGAR SEGALA APA YANG HENDAK KITA SAMPAIKAN KEPADA PENDENGAR, KHUSUS YANG KITA BACA DARI NASKAH, HENDAKLAH TERDENGAR SEAKAN PENYAMPAIAN CERITA. JANGAN SAMPAI TERDENGAR BAHWA KITA MEMBACA. INI TERKESAN DINGIN DAN TIDAK AKRAB. INI AKAN TERDENGAR SEBAGAI PENGUMUMAN ATAU MAKLUMAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG, DALAM HAL INI KITA BERHADAPAN DENGAN MASALAH KEMAMPUAN BERBAHASA YANG BENAR DAN BAIK DARI MASYARAKAT KITA SENDIRI. HARUS KITA AKUI, BANGSA KITA KURANG MAMPU BERBAHASA DENGAN LANCAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI CONTOH: BERSAMA SEORANG SEJAWAT DARI SIARAN BAHASA MANDARIN, DALAM TAHUN 1990 SAYA DITUGASKAN KE BEIJING UNTUK MELIPUT PESTA OLAHRAGA SE-ASIA ATAU ASIAN GAMES.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJELANG UPACARA PEMBUKAAN, KAMI SERING KELILING KOTA, SAMBIL MAKAN ANGIN DAN CUCI MATA, JUGA MENGUMPULKAN BAHAN, TERMASUK WAWANCARA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA BUKAN ALANG KEPALANG CEMBURUNYA MELIHAT SEJAWAT SAYA DARI SIARAN BAHASA MANDARIN ITU, DENGAN MUDAH DAPAT MEMANCING NARA SUMBERNYA UNTUK BERBICARA BEGITU LANCAR – NYEROCOS KATA ORANG JAKARTA, DARI TUKANG SAPU JALAN, TUKANG ANGKAT SAMPAH, SAMPAI PADA PEJABAT TINGGI CINA. IA TINGGAL MENAJUKAN HANYA SATU PERTANYAAN, DAN SELAMA BERMENIT-MENIT NARA SUMBERNYA AKAN BERBICARA TIDAK PUTUS-PUTUSNYA. ENTAH APA YANG DIKATAKANNYA – WALLAH WA'ALAM. NAMUN DALMA RADIO, KETERDIAMAN SEBENTAR SAJA TERDENGAR LAKSANA KEKAL ABADI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBALIKNYA, KALAU SAYA HARUS MEWANCARAI PARA OLAHRAGAWAN/ WATI KITA, BAHKAN PEJABAT-PEJABAT OLAHRAGA KITA, SAYA HARUS MERUMUSKAN PERTANYAAN SAYA SEDEMIKIAN RUPA, HINGGA KALAU DIJAWAB HANYA DENGAN YA DAN TIDAK – DAN BIASANYA MEMANG BEGITU – NAMUN SUDAH CUKUP MEMADAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUNGKIN KITA MEMANG DIDIDIK DARI SEJAK KECIL AGAR HEMAT BICARA. ORANG YANG PANDAI BERTUTUR KATA DIEJEK SEBAGAI TUKANG OBAT, DENGAN SIRATAN YANG JELEK-JELEK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH SEBAB ITU, APABILA DALAM KEGIATAN SIARAN TIDAK SELALU ADA TEKS ATAU NASKAH YANG DIBACAKAN (HINGGA, MENURUT ACUAN SEMINAR INI, HARUS ADA IMPROVISASI, PENYIAR-PENYIAR KITA AKAN KEWALAHAN. DALAM USAHA UNTUK MENUTUPI KEKURANGAN INI, SANG PENYIAR MEMILIH JALAN PINTAS, MENGGUNAKAN ISTILAH-ISTILAH YANG SEDANG HANGAT DAN TENAR. YANG SEBENARNYA ADALAH KLISE YANG UMURNYA JUGA PENDEK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKANKAH PADA WAKTU SIARAN RADIO AMATIR – SEBELUM MENJADI RADIO SIARAN SWASTA – KITA PERNAH BERKENALAN DENGAN ISTILAH-ISTILAH SEPERTI "MANYALA BOB….?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIMANAPUN DI DUNIA INI, KLISE-KLISE SLANG ATAU PROKEM TIDAK PERNAH MAMPU BERTAHAN LAMA. AKAN TETAPI HANYA KARENA USIANYA YANG PENDEK BUKAN BERARTI HARUS SERING-SERING DIPERGUNAKAN. KLISE DAN PROKEM INI ADALAH BAHASA SEBENTAR, MENURUT HEMAT SAYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG TIDAK MUDAH UNTUK DAPAT BERBICARA DENGAN LANCAR TANPA NASKAH. DALAM KEADAAN SEPERTI INI, SEORANG PENYIAR DAPAT DENGAN MUDAH TERJERUMUS KE KANCAH KESALAHAN. LAMPU MERAH MENYALA, MENANDAKAN MIKROFON TERBUKA, DAN SEGALA BUNYI MAUPUN SUARA YANG TIMBUL DI DALAM STUDIO YANG KECIL ITU NISCAYA – DAN INI SANGAT DISADARI – AKAN TERDDENGAR KELUAR. JANGANKAN BUNYI DAN SUARA ASING, BAHKAN BUNYI NAFAS KITA SENDIRI – APALAGI SEORANG PEROKOK – AKAN TERSALUR SAMPAI KE RUMAH ORANG LAIN. DALAM SIARAN RADIO KEPANTANGAN NOMOR SATU IALAH KETERDIAMAN. TIADA YANG LEBIH MENYAKITKAN TELINGA SEORANG PENDENGAR DARIPADA KESUNYI-SENYAPAN. BIAR HANYA TIGA EMPAT DETIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGANKAN SEORANG PENYIAR DI DALAM STUDIO. BAHKAN WARTAWAN YANG SUDAH BIASA MENYAMPAIKAN LAPORANNYA LEWAT TILPON, MISALNYA, DAPAT DENGAN MUDAH MEMBUAT KESALAHAN, APABILA MERASA TERDESAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA PERNAH MENDENGAR SEORANG WARTAWAN RADIO DI AUSTRALIA YANG MENYAMPAIKAN LAPORAN PANDANGAN MATA DARI SUATU TEMPAT KEJADIAN KECELAKAAN LALU LITAS DI JALAN YANG RAMAI. MUNGKIN SAKING BERNAFSUNYA UNTUK MENYAMPAIKAN LAPORAN YANG SEJELAS DAN SETUNTAS MUNGKIN IA MENGATAKAN, "SALAH &lt;br /&gt;SEORANG KORBAN KECELAKAAN INI, PALING TIDAK DUA BELAH KAKINYA PATAH".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG PENYIAR MEMANG WAJIB MEMPERKAYA DIRINYA DENGAN BERBAGAI BAHAN LATAR BELAKANG. DAN INI HANYA DAPAT DILAKUKAN DENGAN MEMBACA DAN MEMBACA ATAU MENDENGAR SIARAN RADIO LAIN, ATAU MENYAKSIKAN ACARA-ACARA BERGUNA DI TELEVISI. KHAZANAH BAHAN ATAU PENGETAHUAN LATAR BELAKANG MEMANG MERUPAKAN TONGKAT YANG PALING AMPUH. DALAM KEADAAN TERDESAK KITA DAPAT MERANGKAI SUATU BERITA KECIL HINGGA MENJADI CERITA YANG MENARIK YANG AKHIRNYA BUKAN SAJA MENGISI WAKTU YANG TERSEDIA DAN TIDAK DAPAT KITA PENUHI HANYA DENGAN MUSIK, MELAINKAN SEKALIGUS DAPAT MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA KITA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM ACUAN SEMINAR INI DIKATAKAN, ANTARA LAIN: PRAKTISI RADIO SIARAN NON-PEMERINTAH, DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN SIARAN SERING MENGGUNAKAN BAHASA ATAU UNGKAPAN-UNGKAPAN YANG BERSIFAT LOKAL ATAU DISESUAIKAN DENGAN BAHASA UJARAN YANG DIGUNAKAN OLEH SASARAN PENDENGARNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG INI KECENDERUNGAN UNTUK DAPAT POPULER, AKAN TETAPI INI MERUGIKAN BUKAN SAJA PENYIARNYA MELAINKAN JUGA PENDENGARNYA. PATUTKAH KITA MENURUTI SAJA KEMALASAN ORANG UNTUK BERPIKIR DAN MENGGUNAKAN BAHASA YANG BENAR DAN BAIK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIDAK-TAHUAN BUKANLAH SATU-SATUNYA PENYEBAB TERJADINYA BAHASA YANG JELEK. KEMALASAN JUGA ADALAH BIANG KELADINYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM KAITAN INI SEORANG PENYIAR, ATAU PIMPINAN RADIO HARUS MENENTUKAN SIKAP: APAKAH SIARANNYA HANYA AKAN &lt;br /&gt;MENCERMINKAN BAHASA YANG HIDUP DI DALAM MASYARAKAT, ATAUKAH MENCOBA UNTUK MEMBIMBING PENDENGARNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG, PALING TIDAK SEMENTARA AHLI BAHASA INGGRIS SUKA MENGATAKAN, MEREKA TIDAK MENENTUKAN BAGAIMANA ORANG HARUS BERBAHASA, MELAINKAN HANYA MEMPERHATIKAN BAGAIMANA MASYARAKAT BERBAHASA DAN KEMUDIAN MELAKUKAN SEMACAM KODIFIKASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMUN, SEORANG PENYIAR KIRANYA DAPAT MELAKUKAN PEMBIMBINGAN. IA HARUS SADAR BAHWA ORANG SUKA MENDENGARKAN SUARA PENYIAR YANG DIKENALNYA ATAU YANG SUDAH DIKENALNYA DARI JAUH, YANG SUDAH BIASA DIDENGARNYA, HINGGA BEGITU PENYIAR TADI BUKAN MULUT, MAKA IA LANGSUNG MENGENALINYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG INGGRIS MENGATAKAN, SEORANG PENDENGAR MERASA TERTARIK DENGAN PENYIAR YANG DIANGGAPNYA HAMPIR SAMA DENGAN DIRINYA SENDIRI, KARENA SUKA MENYUARAKAN PIKIRAN ATAU PENDAPAT YANG MENJADI PIKIRAN ATAU PENDAPAT DIA SENDIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI KESEMPATAN ATAU PELUANG BESAR UNTUK MENGAJAK SECARA HALUS DAN TIDAK LANGSUNG PENDENGAR TADI AGAR MENJADI SEPERTI SDR. SENDIRI MENGGUNAKAN BAHASA YANG MEBAR DAN BAIK. BUKAN YANG MULUK-MULUK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM SIARAN RADIO BERBICARA DENGAN SEDERHANA LEBIH MENJAMIN KEPASTIAN DIPAHAMI. HINDARILAH PERKATAAN YANG BESAR DAN PANJANG. PERKATAAN YANG SEDERHANA DAN SINGKAT PUNYA DAYA MEMAHAMKAN YANG AMPUH SEKALI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENTUKLAH KALIMAT YANG PENDEK-PENDEK. KALIMAT YANG MEMUAT HANYA SATU PEMIKIRAN. JAUHI KALIMAT YANG BUKAN SAJA BERANAK CUCU AKAN TETAPI AKHIRNYA MENGABURKAN PESAN YANG HENDAK DISAMPAIKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COBA PERHATIKAN APA YANG DIKATAKAN OLEH KHAIRIL ANWAR –MISALNYA: SEKALI BERARTI, SUDAH ITU MATI. SINGKAT, TAJAM, KENA, LANGSUNG MENIKAM KE JANTUNG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG YANG MAMPU MENGGUNAKAN BAHASA YANG SEDERHANA ADALAH ORANG YANG MENGUASAI BAHASANYA. BAGI SEORANG PENYIAR, INI SANGAT PENTING. SEBAB, SEORANG PENYIAR PUNYA KESEMPATAN HANYA SEBENTAR, SEKALI LINTAS UNTUK MENYAMPAIKAN PESANNYA, DAN SEBALIKNYA, SEORANG PENDENGAR JUGA MENDAPAT KESEMPATAN YANG SEBENTAR DAN SEKALI LINTAS UNTUK MEHAMI APA YANG DIKATAKAN ATAU DICERITAKAN OLEH PENYIAR TADI. JARANG-JARANG DALAM SIARAN RADIO KITA DAPAT MENGULANG-ULANG KETERANGAN YANG HENDAK KITA SAMPAIKAN. LALIN HALNYA DENGAN PENGUMUMAN, ATAU MAKLUMAT ATAU IKLAN TENTANG SUATU PERTUNJUKAN, YANG MEMANG HARUS DIULANG TEMPAT, TANGGAL DAN JAMNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALIMAT YANG PENDEK DENGAN DIHIASI KATA-KATA YANG SEDERHANA BIASANYA LEBIH MAMPU MENCAPAI TUJUAN. MUDAH DICERNA, KARENA MEMANG HARUS LANGSUNG DICERNA. BEGITU TERDENGAR, SEGERA DIKIRIM KE OTAK UNTUK DIPAHAMI DAN KEMUDIAN SIAP UNTUK PESAN BERIKUTNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKAN TETAPI, PIHAK-PIHAK TERKAIT LAINNYA JUGA HARUS IKUT MENYINGSING LENGAN BAJU DALMA USAHA MEMBINA BAHASA DI KALANGAN MASYARAKAT – MULAI DARI SEKOLAH. BAHASA YANG BENAR DAN BAIK BUKANLAH MONOPOLI PENYAIR DAN PENGARANG SAJA. KITA YANG AWAM PUN BERHAK ATASNYA. MASYARAKAT YANG SUDAH TERBIASA DENGAN BAHASA YANG BENAR DAN BAIK, AKAN MENUNTUT BAHASA YANG BENAR DAN BAIK DARI PENYIAR-PENYIAR DAN DISUKAI DAN DIKAGUMINYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA HEMAT SAYA, SETELAH SEMPAT MENEKUNI SEJENAK SIARAN RADIO SWASTA DI JAKARTA INI TAHUN LALU, ADA PENGHAMBAT YANG ACUKUP BESAR YANG MEMBUAT TERSENDAT-SENDAT BERKEMBANGNYA BUDAYA PENGGUNAAN BAHASA YANG BENAR DAN BAIK DI KALANGAN BANYAK PENYIAR RADIO SWASTA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMBATAN YANG DIMAKSUD IALAH: TIDAK ADANYA PELUANG UNTUK IKUT MEMBUAT WARTA BERITA YANG SELAMA INI, DAN ENTAH SAMPAI KAPAN, MASIH MENJADI HAK MUTLAK SIARAN RESMI RRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APABILA RADIO SWASTA DIPERBOLEHKAN MEMBUAT DAN MENYIARKAN WARTA BERITA SENDIRI, MAKA NISCARA KESADARAN AKAN BAHASA YANG BENAR DAN BAIK AKAN MENJADI LEBIH TEBAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHASA WARTA BERITA ADALAH BAHASA RESMI, YANG TIDAK-BOLEH-TIDAK HARUS BENAR. KEHARUSAN MENGGUNAKAN BAHASA YANG BAIK INSYA ALLAH AKAN ADA DAMPAKNYA TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA DALAM SIARAN-SIARAN LAINNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK MUSTAHIL PENYIAR-PENYIAR LAINNYA AKAN MERASA MALU KALAU TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA YANG BENAR DAN BAIK. DAN SEBAGAIMANA SAMA KITA KETAHUI, PERASAAN MALU ITU ADALAH PENDORONG DAN PENCEGAH YANG JITU DAN AMPUH SEKALI. CUMA YANG JUGA PERLU DIPERHATIKAN IALAH CARA PENYAMPAIANNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA PENYIAR KAWAKAN RRI YANG PERNAH DITUGASKAN ATAU DIPERBANTUKAN PADA BBC SIARAN BAHASA INDONESIA, PERNAH MENGELUH PADA SAYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA MENGIKUTI KURUS, SEBAGAIMANA YANG SAYA CERITAKAN TADI, MEREKA DISURUH MEMBACAKAN SESUATU. SESUAI DENGAN PETUAH "ALAH BISA KARENA BIASA" ATAU DARI KECIL TERANJA-ANJA SAMPAI BESAR TERBAWA-BAWA, MEREKA UMUMNYA MENGGUNAKAN FORMAT SUARA MEMBACA WARTA BERITA RRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARA INSTRUKTUR DI BBC TERNYATA SAMA SEKALI TIDAK TERKESAN. KARENA KAIDAH SIARAN YANG MEREKA HAYATI IALAH BERCERITA BUKAN MEMBACA. SEDANG SAUDARA-SAUDARA KITA YANG DARI RRI TELAH BEGITU BERSUSAH PAYAH DIGEMBLENG AGAR MAMPU MEMBACA WARTA BERITA DENGAN GAYA YANG BEGITU KHAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI ORANG INGGRIS, DAN BANYAK BANGSA LAINNYA, GAYA ITU KURANG WAJAR DAN AKIBATNYA KURANG AMPUH. COBA KALAU DICERITAKAN, KATA MEREKA, NISCAYA AKAN LEBIH CEPAT DAN MUDAH DIPAHAMI, DAN BAHKAN DIPERCAYAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENDATI SAYA BOLEH DIKATAKAN SELAMANYA BEKERJA PADA SIARAN RADIO YANG SAMA SEKALI TIDAK MENGANDALKAN IKLAN, NAMUN BUKAN BERARTI SAYA TIDAK MENYADARI ADANYA IKLAN DALAM SIARAN RADIO. SAMPAI BATAS-BATAS TERTENTU, BAHASA IKLAN SERING LEBIH AMPUH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENAPA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARENA SINGKAT DAN SEDERHANA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMUN TIDAK JARANG JUGA NAKAL. MAKLUM, YANG MENJADI DEWANYA ADALAH UANG – SEDANGKAN KECINTAAN AKAN UANG, SEBAGAIMANA SUKA DIKATAKAN, ADALAH PANGKAL SEGALA KEBEJATAN, TETAPI INI CERITA LAIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA TERINGAT AKAN SEBUAH STASIUN RADIO NIAGA DI AUSTRALIA YANG MEMASANG IKLAN BESAR-BESAR UNTUK DIRINYA SENDIRI DI PAPAN-PAPAN REKLAME.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESANNYA SANGAT SEDERHANA, DAN DALAM BAHASA INGGRIS BERBUNYI: WHO CAN I TURN TO?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANG ARTINYA: KEPADA SIAPA TEMPAT AKU BERPALING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAWABAN YANG TERSIRAT ADALAH: AKU, ATAU SIARAN RADIO INI – YANG DISEBUTKAN NAMANYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMUN, ADA SEORANG NENEK TUA YANG SANGAT KEBERATAN DENGAN KALIMAT INI. KARENA MENURUT KAIDAH BAHASA INGGRIS ADA KESALAHAN BESAR ATAU KECIL, TEPUK DADA TANYA SELERA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM KALIMAT SINGKAT YANG MENARIK ITU PERKATAAN WHO ALIAS SIAPA ADALAH PENDERITA – KASUS OBYEKTIF – KARENANYA HARUS WHOM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAN AKHIRNYA STASIUN RADIO ITU MEMANG MENGALAH DAN MEMPERBAIKINYA MENJADI: TO WHOM CAN I TURN TO?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIRUL KALAM, INGIN SAYA INGATKAN KEPADA SEJAWAT-SEJAWAT SAYA BAHWA KITA INI SEBENARNYA ADALAH MANUSIA YANG INGIN MENCERITAKAN KISAH TENTANG MANUSIA, KEPADA PENDENGAR YANG JUGA MANUSIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADALAH KEWAJIBAN KITA KEPADA PENDENGAR KITA UNTUK TERDENGAR SEBAGAI MANUSIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAMPAIKANLAH PESAN ATAU CERITA ITU DALAM BAHASA YANG DIPERGUNAKAN KALAU KITA HENDAK BERCERITA KEPADA ORANG LAIN, DENGAN MENGANDALKAN KATA-KATA KITA SENDIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOGA-MOGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKALI DI UDARA, TETAP DI UDARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASSALAM.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10252619-110812632521802338?l=jafsradio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jafsradio.blogspot.com/feeds/110812632521802338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10252619&amp;postID=110812632521802338&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110812632521802338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10252619/posts/default/110812632521802338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jafsradio.blogspot.com/1995/03/makalah-nuim-khaiyath.html' title='Makalah Nuim Khaiyath'/><author><name>JaF</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v458/jaf/jafkecil.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
