** JAF'S RADIO BER MIGRASI ! * *
 Bersama dengan ini diumumken bahwasanya terhitung hari ini, situs "JaF's Radio Blog" alias situs yang sedang anda baca ini telah memutusken untuk mandiri dan mencoba "berdiri di atas hosting sendiri" JaF's Radio Blog kini ada di: http://www.suarane.comSehubungan dengan kepindahan itu, kami dengan ini mengucapken beribu terimakasih kepada Blogger dan Blogspot yang sudah bersedia menampung kami selama ini. Juga kepada Mas Made dan webterbaik.com yang sudah mendaulat kami menjadi salah satu web terbaik Indonesia versi Mas Made. Terimakasih kepada seorang kawan baik yang sudah bersedia membantu mendirikan tempat yang baru ini, semoga dirimu mendapat tempat yang layak di alam saiber. Harap dipermaklumken adanya. Tertanda, JaF
[Penulis Tamu] Masih Adakah Bagian Dirimu Yang Menjadi Misteri Untuk Dikhayalkan?
" We hardly need you use our ears.." Ini adalah salah satu bagian dari lirik lagu Radio Ga Ga dari kelompok Queen yang menceritakan betapa radio siaran mulai dikalahkan oleh media visual. Kita nyaris tak perlu menggunakan telinga lagi, ledek Queen, dan ini seolah dibenarkan oleh The Buggles dalam Video Killed The Radio Star yang liriknya antara lain berbunyi " Pictures came and broke your heart, put the blame on VTR." Tapi kembali mengutip Queen, " Radio someone still love you" masih ada yang mencintai radio karena banyak kelebihan yang tidak bisa digantikan oleh media lainnya. Salah satunya adalah seperti yang ditulis oleh kawan blogger yang satu ini yang hanya saya kenal dengan nick nya: MangQ. Jadilah saya pinjam tulisan beliau untuk dipajang di sini. Tulisan aslinya ada di sini. Thanks Mang.. ;-) Read on guys.. ***
Masih Adakah Bagian Dirimu Yang Menjadi Misteri Untuk Dikhayalkan? oleh MangQ.
Ada berapa lagu tentang radio yang populer? Setidaknya empat yang aku tahu: Radio Gaga (Queen), Radio (The Corrs), Radio Saves My Life Tonight (Bon Jovi), dan Radio (Robbie Williams). Ada berapa lagu yang dipopulerkan radio? Tak terhitung, atau kalau diperlukan suatu angka, akan kukatakan saja angka 100%. Berapa umur suatu lagu di radio? Mungkin dalam ukuran minggu suatu lagu akan berotasi kencang di radio, sebelum akhirnya digantikan dengan lagu yang lain. Berapa sudah umur radio? Panjang, ukurannya tahunan. Meski belum setua umur musik, umur radio sudah panjang. Radio pertama siaran tahun 1906, kata situs ini.
Ketika televisi lahir, ada yang meramalkan umur radio akan segera mati. Sama seperti ketika internet hadir, dikatakan koran akan segera mati. Akan tetapi hal itu tidak terjadi. Radio terus berjaya, seperti slogan RRI sekali di udara tetap di udara (Bayangkan jika slogan ini dipakai oleh maskapai penerbangan). Mengapa? Sifat radio yang portable dan bisa didengarkan sambil melakukan perkerjaan lain. Itu mungkin yang menjadi daya tarik utama radio. Kita mungkin akan sulit mengemudi, belajar, bekerja atau memasak sambil nonton televisi. Bahkan sifat interaktif radio pun masih tetap bisa dinikmati sambil bekerja. Kita masih bisa memasak dan menelpon ke stasiun radio untuk sekedar kirim-kirim lagu, mengikuti kuisnya atau mengeluarkan pendapat dalam talk show interaktif.
Akan tetapi ada satu hal dari radio yang akan tetap khas: radio menyisakan satu misteri tentang penyiarnya. Karena kita hanya mendengarkan suaranya, maka ada satu ruang yang disediakan untuk kita mengkhayalkan bagaimana sebenarnya penyiar tersebut. Dengan hanya menggunakan medium suara, maka semua imajinasi tentang bagaimana rupa dan sifat asli penyiarnya menjadi milik kita seutuhnya. Berbeda dengan penyiar berita televisi, ruangan imajinasi yang kadang tersisa adalah apakah penyiar itu menggunakan rok atau celana panjang. Atau kamu membayangkan penyiar televisi memakai celana pendek? Sisanya sudah tidak ada lagi.
Misteri yang tersisa, diisi dengan imajinasi, terserah sesuai keinginan dan daya khayal masing-masing, sehingga menciptakan keindahan sesuai dengan keinginan masing-masing. Hal yang sama mungkin bisa didapatkan dari foto hitam putih, dimana warna-warna yang mengganggu ekspresi dihilangkan, sehingga ekspresi atau suasana menjadi lebih terekam. Khayalan tentang warna menjadi bagian yang disisakan untuk diinterpretasikan tersendiri oleh yang melihatnya. Satu contoh lain adalah foto erotis. Nilai erotisnya berkurang setelah semua ditanggalkan dan ditampilkan. Tidak adalagi yang tersembunyi dan ruang untuk penasaran dan berkhayal telah hilang.
Jika diterapkan ke hubungan interpersonal, ketertarikan juga akan lebih besar saat masih ada misteri yang disisakan untuk memancing rasa ingin tahu dan ingin mengenal lebih dalam. Misteri, bagian yang tersembunyi, rahasia kecil dan kejutan-kejutan tak terduga dari manusia memang selalu menarik. Tak heran jika selebritis selalu dikorek-korek kehidupannya, karena semua yang tertutup biasanya lebih memancing keingintahuan dariada yang terbuka.
So, masih adakah bagian dari dirimu yang masih menjadi misteri untuk dikhayalkan? *
__________________ *Sumber asli: http://bw.or.id/blog/2005/06/100/
[GapTek] Spikernya Di Mana, ya?
Pertanyaan di atas pastinya sudah awam buat wartawan radio yang meliput acara jumpa pers, seminar atau kegiatan semacamnya. Alasannya pasti sudah jelas. Namanya radio tentu memerlukan rekaman suara. Maka jangan heran kalau dalam berbagai acara anda melihat ada orang mengerumuni loudspeaker atau spiker sambil menodongkan alat rekam. Itu praktek yang sudah awam, bukan cuma buat radio, tapi juga televisi dan cetak. Kualitas suara pun relatif bagus.
Ya sebenarnya ada cara paling gampang, yakni dengan meletakkan alat rekam di depan pembicara. Tapi kendalanya banyak. Pertama, belum tentu mikrofon kita bisa menangkap ucapan pembicara dengan jelas, apalagi kalau mikrofon di alat rekam kita kurang sensitif. Terlebih lagi kalau pembicaranya lebih dari satu orang. Tentu repot urusannya memindah-mindahkan alat rekam kesana kemari. Kedua, kita tidak bisa mengontrol kalau kalau alat rekam tiba-tiba mati, atau tapenya habis. Pada akhirnya, jalan paling mudah tinggal todong alat rekam ke spiker. Beres! Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan kalau menggunakan teknik ini. Pertama, jangan terlalu dekat karena suaranya seringkali pecah. Kedua, jangan terlalu jauh juga karena seringkali hasil rekamannya akan bergema. Ketiga, matikan handphone karena seringkali sinyal GSM mengganggu alat rekam. Ke empat, sebisa mungkin gunakan headphone agar anda bisa mengontrol kualitas suara.
Seorang kawan juga menambahkan saran berikut ini: Jauhi wartawan radio xxx (maaf saya tak sebut nama radionya, tak etis lah..). Awalnya saya pikir dia bercanda, tapi ternyata seringkali wartawan radio xxx tadi punya kebiasaan menodongkan handphone atau hp ke spiker dan disiarkan langsung di radionya. Akibatnya, sinyal dari hp si wartawan radio ini seringkali mengganggu sinyal alat rekam teman-teman wartawan lain yang juga sedang menodongkan alat rekamnya ke spiker yang sama. (Terlepas dari gangguan itu, saya harus akui ide radio xxx untuk melakukan siaran langsung dengan cara itu sangatlah kreatif.)
Masalahnya, belum semua penyelenggara acara yang melibatkan wartawan, punya kesadaran atau pemahaman untuk menyediakan speaker di lokasi strategis yang bisa digunakan oleh wartawan, khususnya wartawan radio. Beberapa hotel berbintang misalnya lebih mengandalkan spiker permanen yang biasanya terpasang di langit-langit. Mereka pikir itu sudah cukup, padahal hasilnya rekamannya seringkali tidak maksimal. Tak heran kalau kemudian kami wartawan menanyakan dimana spikernya, mereka terbengong-bengong.
Oya satu tips lagi. Kalau anda tidak menemukan spiker, sebenarnya masih ada cara lain. Biasanya hotel atau gedung pertemuan memiliki control room dimana mereka mengatur sound system yang digunakan untuk acara tersebut. Nah, mereka biasanya juga punya monitor kecil yang bisa anda gunakan untuk meletakkan alat rekam anda di sana. Lebih bagus lagi kalau mereka menyediakan output audio yang tinggal anda hubungkan dengan kabel ke alat rekam anda. Suaranya dijamin bagus dan bebas gangguan dari suara-suara luar.
Terakhir, ini tips buat para penyelenggara seminar atau acara yang mengundang media atau pers. Sediakanlah spiker khusus untuk kami para wartawan, khususnya wartawan radio. Lebih bagus lagi kalau anda bisa menyediakan jalur output audio khusus yang bisa kami sambungkan dengan kabel audio ke alat rekam kami. Hasil liputan acara anda pun tentu akan lebih bagus lagi. Bukan begitu, bukan? :-)
[Penulis Tamu] Sehabis Gempa Menjelang Pupus Bulan Maret itu Datang....
Kenalkan, teman saya, namanya Firmansyah, biasa dipanggil Firman atau Firqie. Kami sudah bersama-sama marambah dunia radio sejak bertahun-tahun lalu, bahkan pernah bersama ikut terlibat dalam proyek idealis untuk membuat sebuah kantor berita radio yang pertama di Indonesia. ( Terbukti berhasil, meskipun kemudian harus mengalah pada dunia komersil..hehehe). Dari proyek itu kami kemudian berpisah jalan, meskipun masih di rel dunia radio. Namun di saat saya masih betah di sini, dia sudah 'keluyuran' ke mana-mana. Terakhir di ada di Timor Leste melatih para insan radio di sana. Eh, sekarang sudah ada di Aceh, dan baru-baru ini dia kirim tulisan tentang pengalamannya di kawasan yang baru diobrak-abrik gempa dan diguyur Tsunami... Firqie.. Firqie.. Sumpah gue iri banget dengan beragam pengalamanmu.. ***
Sehabis gempa menjelang pupus bulan Maret itu datang.... Oleh: Firmansyah MS, Produser Eksekutif Peuneugah Aceh Internews
Suara Jamal Abdullah -pemusik muda Aceh- dan musik tradisi Aceh masih terdengar dari laptopku, ketika gempa datang di malam itu. Saat itu kusedang mendengarkan dan mengedit lagu ‘wamule’ gubahan pemusik tradisional Aceh Jamal Abdullah dari bentuk file mp3 menjadi wave. File wave dari lagu ‘wamule’ itu akan kumasukkan dalam file arsip Peuneugah Aceh, program radio siaran darurat Internews. Program ini mengudara satu jam setiap hari di beberapa stasiun radio di Aceh dan juga bisa didengar melalui radio satelit worldspace pada saluran Relief pagi, pk. 7.00, dan sore hari, pk. 16.30.
Pada malam 28 Maret 2005 itu, kusedang berada di kantor sekaligus rumah para staff Internews Aceh, kawasan Lamlagang, Banda Aceh. Sekitar pukul 11 malam, tiba-tiba datang goncangan, yang pelan tapi pasti semakin besar. Meja tempat aku meletakkan laptop bergoyang, begitu pula dengan sebuah kipas angin berdiri yang berada di dekatku. Zihni, dari tim TV Internews, yang saat itu sedang berdiskusi singkat denganku tentang musik tradisi Aceh, belum begitu merasakan goncangan itu. Baru kemudian, setelah makin lama makin kencang, Zihni dan juga aku serta diikuti kawan-kawan lainnya –Dadang, Sandy, Haidir, Haryo, Ucok dan Ferry, berjalan keluar rumah. Kami berdiri di halaman depan rumah sambil memantau perkembangan. Listrik seketika mati di Lamlagang. Aku menduga listrik juga mati di bagian-bagian kota Banda Aceh lainnya. Suara azan berkumandang di depan rumah kami –dari sebuah panti pijat tuna netra dan juga dari mulut Pak Alaiddin, pemilik rumah yang kami sewa. Mulut kami sendiri tak putus melafadzkan istighfar, tahlil (laa ilaaha illallaah) dan allahu akbar, sebagai ekspresi mohon ampun atas segala dosa yang kami telah perbuat selama ini. Sungguh pengalaman yang menggetarkan jiwa.. Tubuh lunglai, lidah kelu.. Saat itu bagiku, menjadi saat yang membuatku melebur kehadirat Tuhanku dengan sebenar-benarnya.. Serentak kuingat kutipan syair dari puisi ‘Doa’ Chairil Anwar, penyair revolusioner Indonesia angkatan ’45 yang kukagumi..
Biar susah sungguh Mengingat Kau penuh seluruh....
Tuhanku Di pintu-Mu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling
Kemudian aku mencoba mengirim kabar kepada sanak-keluarga dan handai-taulan. Kucoba menelepon, tetapi tidak berhasil. Kukirimkan sms, hampir semuanya gagal juga. Kecuali dua, sms itu terkirim ke seorang kawan Acehku, Cut Nyak Inseun Faradena dan kawanku di Internews kantor Jakarta –saat itu sedang berada di Medan, Eric Sasono. Pesan singkat itu berbunyi.. Baru sj tjd gempa ckp bsr & lama di Banda.. Listrik mati...
Sepanjang sejarah hidupku yang 33 tahun ini, inilah gempa bumi terbesar dan terlama yang kualami. Kurang-lebih tiga menit gempa itu berlangsung di Banda Aceh dan sekitarnya. Kekuatan gempa 8,7 skala richter di pusat gempa, antara pulau Simeleu di Aceh dan Pulau Nias di provinsi Sumatera Utara, demikian data yang kudapatkan dari website World Data Center US Geological Survey pada keesokan harinya.
Sekitar 45 menit dari saat gempa berlangsung, aku dan salah seorang pengemudi mobil kami, Ucok, pergi ke studio Peuneugah Aceh di Geuceu, Banda Aceh, kurang-lebih 1 kilo meter dari kediaman kami. Kuingin pastikan semuanya selamat, para kru dan peralatan yang ada di sana. Tiga telepon selular -Kartu Halo Telkomsel, Matrix Satelindo dan Simpati Telkomsel Aceh, serta satu telepon satelit menemani perjalananku keluar rumah. Harapanku, kawan-kawan Internews atau kawan-kawan lainnya tidak akan mengalami kesulitan untuk menghubungiku.
Di studio, aku hanya bertemu Agus Rahmad, reporter sekaligus editor kami. Agus juga sempat lari ke daerah yang lebih tinggi, karena ia dan juga rata-rata keluarga Aceh lainnya masih belum bisa melupakan tragedi tsunami yang datang setelah gempa dahsyat 18 menit tiada henti lalu, pada 26 Desember 2004.
Waktu menunjukkan pukul 00.00 dini hari, aku meninggalkan studio menuju rumah sound enginer kami, Danil Abdi di kawasan Blower, salah satu daerah yang kena dampak besar dari tsunami. Maksudku kesana, mungkin ada yang bisa aku bantu untuk mengantar keluarga Danil jika mereka ingin pergi ke tempat yang lebih tinggi, khawatir tsunami akan datang lagi.
Tiba di rumah Danil, kulihat keluarga Danil sedang bersiap untuk mengungsikan diri dengan sebuah mobil dan beberapa sepeda motor. Aku tidak bertemu Danil di sana. Menurut adik Danil, kakaknya telah pergi ke studio Peuneugah Aceh kami. Aku pamit dan kemudian melanjutkan perjalanan melihat suasana seputar kota Banda Aceh.
Di jalan Simpang Surabaya dan beberapa jalan besar lainnya, masyarakat masih ramai mengungsikan diri. Wajah-wajah cemas itu juga terlihat di beberapa jembatan, ada yang berjalan kaki, ada pula yang mengendarai sepeda motor. Mereka masih belum bisa melupakan tragedi tsunami yang meluluh-lantakkan kota mereka tiga bulan lalu.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba seorang laki-laki menelepon di telepon selularku. Ia mengaku bernama Christian dari CNN, salah satu industri pers besar di dunia itu. Ia meneleponku dari kantornya di Washington DC, Amerika Serikat. Aku kaget. Darimana gerangan CNN dapatkan nomor handphoneku yang nomor Aceh ini? Namun, kemudian kucepat menduga, mungkin dari Wayne Sharpe, Kepala Internews Indonesia, atau Kathleen Reen, Kepala Kantor Regional Internews di Bangkok, Thailand. Christian CNN mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku seputar situasi kota Banda Aceh pasca-gempa. Ia juga bertanya tentang apa yang masyarakat lakukan pada saat dan setelah gempa terjadi. Kurang-lebih 5 menit CNN melakukan percakapan telepon internasional denganku. Di akhir percakapan CNN memintaku untuk menyebutkan ejaan huruf dari namaku satu-persatu. Mungkin ini dilakukan Christian sebagai kredit buatku yang telah memberikan informasi kepada CNN.
Tentang siapa gerangan pemberi nomor telepon genggamku kepada CNN itu, akhirnya terungkap. Kelly Kirana Deuster, Koordinator Kantor Internews Banda Aceh, itulah orangnya. Ceritanya begini... Rabu malam sekitar pk. 23.00, aku berbincang dengan Kelly yang baru tiba Selasa sore dari liburan seminggunya di Bangkok, Thailand. Kubercerita tentang kebingungan dan rasa penasaranku tentang siapa yang memberikan nomor kontak telepon selularku kepada CNN. Kelly sempat diam sejenak, lalu tersenyum. Ia mencoba mengingat kembali apa yang ia lakukan pada malam terjadinya gempa di beberapa wilayah di pulau Sumatera, termasuk di Aceh itu..
Ketika itu, Kelly sedang berada di bandara Changi, Singapura. Ia sedang membuka email. Tiba-tiba datang email dari kawannya di Amerika Serikat. Temannya mengirim kabar singkat bahwa CNN sedang butuh seseorang di Banda Aceh yang bisa membantu mereka melaporkan perkembangan yang terjadi di kota ini pasca-gempa. Kelly lalu menjawabnya dengan singkat pula. Ia menyebut namaku, Firmansyah MS, produser eksekutif Peuneugah Aceh Internews, sebagai orang yang bisa membantu CNN di Banda Aceh itu. Menurut Kelly, itu terjadi kira-kira pk. 01.00 waktu Singapura atau 00.00 waktu Banda Aceh. Sekitar pk. 00.30 CNN menghubungiku. Itu berarti hanya dalam tempo 30 menit CNN langsung menindaklanjuti informasi yang Kelly berikan melalui email kepada kawannya di Amerika Serikat. Sungguh luar biasa!! Betapa cepat cara kerja mereka dalam menyajikan informasi kepada publik, khususnya pemirsa mereka.
*****
Sambil mengamati masyarakat yang nampak bingung di jalan-jalan dan beberapa jembatan, kumencari frekuensi radio dari pesawat radio yang ada di mobil kami. Setidaknya ada dua stasiun radio yang mengudara saat itu, Prima FM dan Suara Aceh FM –sebuah stasiun radio darurat. Kesempatan pertama, aku mendengarkan Prima FM. Radio bermoto ‘radio untuk kaum profesional muda’ itu sebetulnya tidak membuat siaran sendiri melainkan menyiarkan secara langsung dari siaran radio 68H di Jakarta. Siaran ini dipancarkan radio 68H melalui satelit dan kemudian disiarkan kepada radio-radio siaran jaringan mereka. Dalam siaran yang disiarkan Prima FM ini, radio 68H tidak hanya bicara Aceh, tetapi juga bicara tentang daerah-daerah lainnya yang terkena dampak gempa, antara lain seperti: pulau Nias di Sumatera Utara, Pekanbaru dan beberapa kota lain di Riau dan Padang provinsi Sumatera Barat. Meskipun kemudian ada beberapa penelepon dari Aceh, khususnya Banda Aceh, tetapi pasti jumlahnya tidak terlalu banyak. Sebab, para pendengar siaran radio 68H di provinsi lainnya pun pasti ingin ikut berpartisipasi melalui saluran telepon yang sama.
Kemudian aku, beralih pada frekuensi 99,0 MHz, radio Suara Aceh FM. Saat itu mereka sedang menyiarkan langsung laporan reporter radio Baiturrahman FM Masyudi –yang juga reporter Peuneugah Aceh kami, dari sekitar kawasan pengungsi di Ulee Lheu –salah satu daerah terparah yang terkena bencana tsunami. Yudi melaporkan bahwa masyarakat pengungsi di Ulee Lheu sudah mulai tenang dan berangsur mulai kembali ke kamp-kamp mereka.
Meskipun hanya satu orang reporter yang diterjunkan pada dini hari itu, terasa betul Suara Aceh FM memainkan perannya sebagai media lokal dengan sajian informasi yang kaya akan muatan lokal (local content). Lalu, Yudi pun pindah ke lokasi lainnya untuk siap menyajikan informasi kepada suadaraku –sapaan khusus untuk para pendengar Suara Aceh FM, tentang perkembangan terakhir di Banda Aceh selepas gempa.
Namun, ketika waktu menunjukkan pk. 01.00, dua penyiar di studio, Misran dan Candi Sinaga, mengucapkan salam perpisahan. Itu pertanda bahwa sebentar lagi Suara Aceh FM pamit sementara dari udara Banda Aceh dan sekitarnya untuk kembali bersiaran esok pagi. Aku tersentak. Aku pikir, Suara Aceh FM harus terus mengudara untuk beberapa saat, satu atau dua jam lagi, untuk menenangkan masyarakat dengan memberikan informasi perkembangan terakhir kepada mereka. Sebab, menurut pendapatku, pada siaran Prima FM yang menyiarkan langsung dari radio 68H di Jakarta muatan lokal Aceh, khususnya Banda Aceh, kurang begitu terasa. Maka, aku memutuskan segera menuju Suara Aceh FM di jalan Teungku Daud Beureueh untuk menemui pimpinan Suara Aceh FM Bung Candi Sinaga, yang saat itu baru saja menutup siarannya bersama Misran, penyiar radio Megah FM Banda Aceh.
Tiba di Suara Aceh FM, aku berdiskusi dengan Candi agar mereka dapat siaran kembali. Pertimbanganku pada Candi, kita harus menolong masyarakat yang masih bingung dan was-was di jalan-jalan dan di jembatan-jembatan karena sedikitnya informasi yang mereka dapatkan. Dan, Suara Aceh FM, sangat punya potensi untuk menolong dan menenangkan mereka dengan memberikan informasi muatan lokal yang berdasarkan fakta di lapangan.
Candi sependapat denganku. Akhirnya Suara Aceh FM kembali mengudara, setelah sempat berhenti beberapa menit. Aku menawarkan diri kepada Candi dan tim Suara Aceh FM lainnya, Misran, Masyudi dan Agus Salim, untuk membantu mengirimkan laporan tentang perkembangan terakhir yang terjadi di beberapa tempat dan mencoba untuk mendapatkan pernyataan resmi dari pihak Polda, Kodam dan Satkorlak tentang bencana gempa terbesar pertama setelah bencana tsunami lalu. Mereka setuju. Lantas, kami memutuskan Candi dan Agus Salim akan bertugas sebagai penyiar di studio, Masyudi keliling kota dengan sepeda motor dan Misran serta aku mengamati kota Banda Aceh dengan kendaraan Internews bersama Ucok.
Pertama, kami pergi ke Polda Nanggroe Aceh Darussalam. Kami tidak berhasil menemui pihak humas atau seseorang yang mau berbicara kepada kami dan menjelaskan hasil pengamatan/patroli mereka terhadap peristiwa gempa beberapa jam lalu. Begitupun halnya dengan Media Center di kantor Infokom dan Satkorlak di gedung Pendopo. Beruntung, di Pendopo itu aku bertemu dengan Mursalin, operator mesin di PLTD –Pusat Listrik Tenaga Diesel- Apung, Pungee Blang Cut, Banda Aceh yang kurang lebih satu jam telah memantau perkembangan ketinggian air di pantai Ulee Lheu dan Lhok Nga (dua daerah yang terkena dampak tsunami paling besar di Banda Aceh). Aku memutuskan untuk mewawancarainya secara langsung untuk Suara Aceh FM. Aku meminta kesediaan Pak Mursalin dan selanjutnya menghubungi studio Suara Aceh FM melalui telepon selularku. Akhirnya aku dan Pak Mursalin –dibantu dengan Misran, mengudara. Aku melakukan wawancara seputar hasil pengamatannya tentang perkembangan terakhir dari posisi air laut di beberapa wilayah pesisir pantai di Banda Aceh. Aku selesai melaporkan untuk Suara Aceh FM. Kurang lebih 4 menit aku mewawancarai langsung Mursalin, sang operator mesin PLTD Apung itu. Di studio sana terdengar suara penyiar Candi Sinaga dan Agus Salim yang mengucapkan terima kasih kepada kami bertiga, sambil menyebutkanku sebagai kontributor dari Internews untuk Suara Aceh FM. Kutersipu mendengarnya...
Dari Pendopo, aku, Misran dan Ucok pergi menuju Kodam Iskandar Muda. Aku berpikir, pasti TNI telah atau sedang melakukan patroli untuk memantau suasana pasca-gempa. Namun, kami diminta untuk mendatangi Kodim setempat sebab menurut petugas jaga di Kodam, pihak Kodim-lah yang melakukan patroli di beberapa wilayah di Aceh pasca-gempa malam itu. Di Kodim, kami mendapat jawaban yang sama. Kami diminta untuk menghubungi pihak Hubdam TNI yang terletak di dekat Pendopo, karena pihak Hubdam-lah yang berwenang untuk memberikan pernyataan resmi kepada pihak lain, termasuk pers.
Di sana kami bertemu dengan seorang tamtama TNI bernama Nur Fajar yang sedang menjadi petugas piket malam itu. Fajar membenarkan bahwa Kodim dan Koramil telah melakukan patroli di beberapa wilayah di Aceh, diantaranya Banda Aceh dan Meulaboh. Namun, Fajar menolak ketika kami memintanya untuk kami wawancarai. Alasannya, ia bukan orang yang berhak memberikan pernyataan kepada pers. Sayangnya, saat itu sang komandan sedang tertidur di pos jaga. Sedangkan Kepala Hubdam sedang berada di kediamannya.Akhirnya kuputuskan untuk tetap memberikan laporan langsung ke Suara Aceh FM dengan bahan penjelasan dari Fajar, sambil mencari taktik untuk tetap bisa mengajak bicara Fajar di tengah laporanku. Dan, alhamdulillah, petugas Hubdam bernama Fajar itu bersedia untuk bicara ketika aku menyodorkan telepon selularku ke arahnya sambil mempersilahkannya menjawab pertanyaanku. Aku tahu taktik yang kuambil ini terlarang atau paling tidak terbuka untuk diperdebatkan. Namun, kusiap untuk mempertanggungjawabkannya sebagai jurnalis yang menjunjung nilai etika dalam melakukan kegiatan jurnalistik. Dan ... buahnya, banyak informasi penting yang dikemukakan Fajar tentang hasil patroli bersama Kodim dan Koramil di Banda Aceh, Meulaboh dan kabupaten atau kota lainnya di Nanggroe Aceh Darussalam.
Sang waktu terus berputar. Subuh hampir tiba. Jam di telepon selularku menunjukkan pk. 02.50 dini hari. Aku berpikir sudah cukup aku berkeliling Banda Aceh sambil membantu memberikan laporan pandangan mata untuk Suara Aceh FM, dan juga CNN. Laporanku dari Hubdam itu menjadi laporan terakhir yang bisa kusampaikan. Kami –Misran, Ucok dan aku, memutuskan untuk kembali ke Suara Aceh FM.
Tiba di halaman depan gedung Bulog Aceh –tempat dimana studio Suara Aceh FM didirikan, Misran segera menemui Candi Sinaga dan Agus Salim di dalam ruangan sedangkan aku mampir dulu ke kamar kecil, yang terletak di sayap kanan gedung Bulog itu. Selesai dari kamar kecil, aku sudah disambut Candi dan Agus di depan pintu studio mereka. Di situ juga ada Misran dan Yudi –yang juga telah kembali dari lapangan. Candi Sinaga, selaku pimpinan Suara Aceh FM saat itu –biasanya digilir setiap sekitar dua bulan sekali, mengucapkan terima kasih kepada Internews dan aku pribadi atas bantuan kami. Terima kasih atas bantuan turut memberikan reportase langsung dari lapangan. Terima kasih telah menyajikan informasi yang akurat dan lebih banyak lagi kepada masyarakat pendengar Suara Aceh FM yang berhubungan dengan gempa malam itu, yang sempat membuat masyarakat Banda Aceh, panik. Setidaknya, menurut Candi, dengan tambahan waktu siaran 2 jam ini Suara Aceh FM telah memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan juga pemerintah provinsi dan kota dalam usaha menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Sehingga, paling sedikit dapat meyakinkan masyarakat untuk berpikir jernih dalam mengambil tindakan dan tidak mudah panik karena informasi simpang-siur dan tidak jelas. Aku pun mengamininya. Rasanya terbayar sudah letih yang kami rasakan, ketika mendengar banyaknya perhatian masyarakat terhadap siaran dini hari kami itu yang tercermin dalam hubungan telepon mereka ke studio Suara Aceh FM yang sangat banyak. Ada yang ingin berbagi informasi, ada yang melaporkan baru saja kehilangan sepeda motornya atau pernyataan-pernyataan yang berisi himbauan mereka kepada masyarakat Aceh lainnya untuk sabar, tenang dan tidak cemas dalam menerima musibah gempa terbesar kedua setelah 26 Desember 2004 lalu.
Pagi sepertinya segera menjelang. Dan aku pun berpamitan dengan Candi, Agus, Misran dan Yudi. Aku pergi menuju mobil kantor kami, di sana Ucok telah menunggu, pasti dengan kantuk dan lelah. Lambaian tanganku dan mereka menjadi isyarat bahwa Ucok dan aku harus segera meninggalkan Suara Aceh FM menuju tugas rutin yang sudah menanti, menuju kawasan Geuce, studio Peuneugah Aceh kami.
Hampir pk. 4.00 pagi. Kami tiba di studio. Cuma ada Agus Rahmad yang sudah tertidur lelap. Beberapa menit kemudian, Ucok dan aku pun segera mengikuti jejaknya. Meskipun gempa yang terjadi beberapa jam lalu itu membuatku harus tetap waspada, tetapi bukan berarti tidak lagi bisa menikmati tidurku seperti hari-hari biasa. Bahkan serasa di tidur malam itu lebih khidmat dari malam-malam sebelumnya... Sebuah tidur sebagai interval. Interval dari perjalanan panjang seorang manusia yang menjadi setetes air dari samudera relawan dan wartawan. Dari mereka yang sedang mendedikasikan waktu dan tenaga untuk ikut menjadi bagian dari proses membangun kembali Nanggroe Aceh Darussalam... Disebabkan oleh gempa dan tsunami itu, kudipertemukan dengan Aceh.. Dari tempatku di Timor Leste –sebuah negeri nun jauh di timur Aceh, WNI ini terbang menuju wilayah paling barat di Republik Indonesia... Aceh.. yang kini telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidupku... dalam suka dan duka... Acheh loen sayang... begitu kata Rafly, penyanyi Aceh yang sangat terkenal itu, lebih lagi pasca-tsunami... Dan, aku pun terlelap... berharap untuk meraih mimpi tentang Aceh baru nan damai dan tenteram.. Jangan ada lagi konflik, jangan ada lagi airmata... Seperti dialog dalam salah satu agedan film legendaris tentang ksatria Aceh Cut Nyak Dhien karya Eros Djarot yang terkenal itu...
“Bek na lee prang”...., itu yang dikatakan Cut Nyak Dhien kepada seorang anak perempuan yang bertanya kepadanya “apakah aku boleh ikut perang, Cut Nyak?” Perempuan pemimpin asal Meulaboh itu terharu, lalu menjawab “di masamu nanti tidak akan ada lagi perang, anakku...” Bek na lee prang... Jangan ada lagi perang.. jangan ada lagi konflik bersenjata.. jangan ada lagi darah dan airmata menetes di bumi Serambi Mekkah ini... Semoga tsunami dan kesulitan-kesulitan yang diakibatkannya mempersatukan pihak-pihak yang bertikai... Mari kita ingat kembali apa yang Allah janjikan dalam Qur’an..
Sesudah kesulitan itu, ada kemudahan... Sesungguhnya sesudah kesulitan itu, ada kemudahan...
(Banda Aceh, 30 dan 31 Maret 2005)
[ON AIR] Sooner or Later
Udah lama juga nggak nulis log siaran..So, I'm back on the air tonite. Jadwalnya sekarang pindah-pindah. Seperti biasa, langsung siapin satu lagu spesial buat penutup. Bahkan untuk urusan lagu pun dikenal istilah Safe The Best For Last.. hehe.. So, malam ini lagu penutup saya adalah .. Sooner Or Later - Allan Parsons Project.
Oh what a price we pay For the things we say And the closer I get to you The further you move away
Banyak orang yang heran dengan lagu ini. Mereka tak pernah dengar, katanya. Heh.. taunya cuma Eye In The Sky aja sih.. Gaull ooii.. gaulll... hehehe..
:: Catatan Pasca Siaran Penyiar juga kudu olahraga. Kudu!! Belakangan ini kalau baca naskah yang panjang, sering ngos-ngosan, dan tarikan nafas terdengar jelas di udara. Mending kalau nafasnya kedengeran seksi .. That's it.. I'm hitting the pool tomorrow.. Byur..!
Have a great weekend everybody...!! I know I will..
[GapTek]: Mengirim Soundbyte Dengan Handphone *
Adalah sebuah kepuasaan --dan pastinya prestasi tersendiri-- bagi seorang reporter radio jika berhasil mengirimkan laporannya dalam jangka waktu yang tidak terlalu jauh setelah peristiwa yang diliputnya itu terjadi. Bukankah kecepatan adalah salah satu kelebihan media radio dibanding media lainnya. Akan lebih hebat lagi jika laporannya itu dilengkapi dengan soundbyte atau potongan suara, biasanya berupa wawancara atau rekaman suasana, tentunya dengan kualitas suara yang jelas. Lewat tulisan ini saya mencoba berbagi pengalaman tentang bagaimana saya dan beberapa teman berusaha mencari cara paling efektif dan ampuh untuk mengirim laporan plus soundbyte dengan telepon genggam atau handphone. Apa yang kami lakukan ini semua didasarkan pada eksperimen langsung di lapangan. Karena itu jika ada yang punya pengalaman lain, kenapa tidak ikut berbagi disini.. Silahkan tinggalkan komen anda atau email saya di jafmail @ gmail.com. [JaF] Jakarta, 1998, menjelang kejatuhan seorang penguasa... Nyaris semua radio siaran mendadak punya reporter dan program laporan langsung dari lapangan. Bahkan radio yang berformat musik pun ramai-ramai mempekerjakan reporter untuk mengirimkan laporan paling hangat dari lapangan di sela-sela hinggar binggar musik yang mereka putar. Saat itu semua yakin akan ada sebuah peristiwa besar. Ada semacam rasa kebersamaan yang tinggi untuk ikut melaporkan detik demi detik perkembangan yang terjadi saat itu. Semua tak ingin tertinggal dalam melaporkan momen-momen bersejarah yang kala itu diharapkan akan mengubah kehidupan bangsa ini, dan kemudian terbukti benar. Saya dan beberapa teman yang saat itu dipercaya untuk mengkoordinir para reporter yang berasal dari sejumlah radio di Jakarta setiap hari memikirkan cara yang paling efektif -dan paling murah untuk kondisi saat itu- guna memaksimalkan kerja reporter-reporter kami yang setiap hari merambah pelosok-pelosok Jakarta dalam melaporkan berbagai peristiwa. Handphone atau telepon genggam yang kala itu baru mulai populer tentu saja menjadi sarana utama meskipun kami juga sempat bereksperimen dengan alat lain, seperti Handy Talkie meski kemudian kami tinggalkan karena kualitas suara yang sering tidak maksimal. Ya sebetulnya banyak alat yang dijual di pasaran untuk keperluan mengirim laporan radio, termasuk dengan satelit. Tapi untuk ukuran saat itu, dan mungkin sekarang, membeli alat seperti itu untuk puluhan reporter bisa membuat bagian keuangan pingsan... Masih untung kalau radio yang bersangkutan tidak bangkrut. Dengan kata lain sangat tidak 'cost wise'. Maka kembalilah kami ke alat yang paling standar: Handphone atau telepon genggam. Mengirim laporan dengan handphone -selanjutnya kita singkat saja menjadi HP- sudah sering dilakukan dan sudah pasti kami pun ikut berlomba mengirimkan laporan secepat mungkin ke stasiun radio masing-masing. Tak puas dengan sekedar laporan, kemudian muncul pertanyaan berikut, yakni bagaimana bisa menggunakan HP untuk juga mengirimkan potongan suara atau soundbyte yang sudah kami rekam dengan tape recorder. 1. Sistem 'Todong' Langsung Secara logika sih gampang saja. Tinggal 'todongkan' spiker tape ke bagian mikrofon dari HP. Tapi masalahnya, HP yang menggunakan sistem GSM mengeluarkan sinyal yang sangat mengganggu peralatan elektronik lain di sekelilingnya, termasuk tentu saja tape recorder atau alat perekam lainnya. Saat menangkap sinyal GSM dari HP yang ada di dekatnya, tape recorder akan mengeluarkan suara seperti sinyal terputus-putus yang merusak suara dari tape. Bicara soal sinyal ini, pernah ada teman dari radio yang nelat menodongkan HP nya saat tengah melakukan interview bersama. Hasilnya semua alat rekam dan juga kamera dari reporter lain terganggu. Bisa ditebak nasib sang reporter radio itu. Memang ada alat perekam digital yang tidak terganggu sinyal GSM, tapi tidak semua. Ada pula jenis HP yang sinyalnya tidak mengganggu yakni yang menggunakan sistem AMPS. Tapi AMPS dulu sangat mahal bahkan kini sudah tidak digunakan oleh provider HP di Indonesia. Kembali ke HP GSM. Dari beberapa uji coba, ternyata ditemukan bahwa sinyal dari HP bisa di 'akali' sehingga saat ia di 'todongkan' ke tape recorder tidak akan mengganggu. Saat itu kami bereksperimen dengan HP Siemes dan Nokia. Caranya dengan menutup lubang speaker (yang menempel di telinga). Kini, beberapa beberapa merek HP bisa ditodongkan dan ternyata sinyalnya tidak mengganggu. 2. Sistem 'Todong' Tidak Langsung Masalahnya kemudian, sistem 'todong' langsung ini ternyata tidak menjamin kualitas suara yang bagus karena adanya gangguan suara dari sekeliling. Ini sangat mengganggu, apalagi kalau kita tidak bisa menemukan tempat sepi untuk mengirim laporan. Dari situ muncul ide untuk 'menodongkan' HP ini ke headphone yang tersambung ke tape recorder. Headphone yang digunakan tentu saja bukan model yang diselipkan di telinga. (lihat gambar sebelah kanan). Keuntungan cara ini adalah bahwa ia bisa mengurangi gangguan suara dari sekeliling. Selain itu gangguan sinyal GSM juga bisa diatasi dengan menjauhkan headphone dan tape (lihat gambar di bawah).  Nah berangkat dari teknik ini, seorang rekan reporter kemudian mencoba cara lain yakni dengan menggunakan handsfree. Caranya hampir sama dengan teknik todong dengan headphone. Bedanya, ia menggunakan handsfree yang kemudian ditodongkan ke speaker tape. Jarak yang jauh antara ujung handsfree dengan handphone ternyata terbukti bisa mengatasi masalah gangguan sinyal GSM. Ini beberapa teknik yang kami gunakan beberapa tahun lalu. Ketika berkesempatan untuk kembali meliput ke lapangan di Jakarta, saya menemukan bahwa ternyata banyak rekan reporter radio yang mengirim soundbyte dengan cara langsung menodongkan ke tape (lihat gambar pertama di atas). Ini berlaku untuk beberapa handphone yang ternyata sinyalnya tidak terlalu mengganggu, meskipun banyak juga yang masih seperti HP dulu. Dari ngobrol dengan para reporter itu, mereka ternyata memilih untuk mengirim dengan sistem 'todong langsung' ini semata karena alasan praktis dan supaya lebih cepat saja. Maklum persaingan sudah semakin tinggi. Jadi tidak perlu membawa handsfree atau headphone.Maka ramailah para reporter menggunakan teknik ini, meskipun saat mendengar laporan mereka di radio, tetap saja masih banyak yang kualitas suara soundbytenya tidak bagus bahkan tak sedikit pula yang masih terganggu suara sinyal GSM. Masalahnya, the show must go on, kan..? 3. Communicator * Saat berkesempatan untuk ditugaskan meliput di Jakarta, saya pun membeli HP jenis Nokia Communicator (9210i) bekas untuk menggantikan HP Nokia 6510 saya. Pertimbangannya cuma satu. yakni dia bisa menyimpan data yang banyak. Bahkan kenyamanan papan ketiknya saya harapkan bisa membantu untuk mengetik skrip langsung di lapangan dan bisa langsung dikirim lewat email. Harus diakui, harganya masih mahal, sekitar 5 juta rupiah. Namun saya membeli yang bekas dengan harga hampir separuhnya, sekitar 2,6 juta rupiah. Saya tidak menyesal membeli HP jenis ini karena terbukti sangat handal bahkan bisa saya kembangkan untuk lebih dari sekedar mengetik skrip dan email.  Nokia Communicator ternyata memiliki fungsi perekam dengan durasi yang sangat panjang, tergantung berapa besar memory card yang digunakan. Dengan membeli memory card 128Mb, saya bisa merekam sampai 2 jam lebih (namun jangan lupa untuk mematikan handphone terlebih dahulu sebelum merekam agar tidak terganggu sinyal GSM). Yang menarik karena ia juga bisa digunakan untuk mengedit walau sangat sederhana. Selanjutnya dengan bermodal handsfree saya tinggal mengirim laporan dan memutar soundbyte yang sudah saya rekam ke communicator dengan lancar tanpa adanya gangguan suara luar yang berarti. Bahkan saya pun bisa mengirim laporan sambil membaca skrip yang sudah diketik di HP tersebut. Canggih dan sangat layak untuk menjadi investasi setiap reporter radio. Kalau ada uang lebih, anda juga bisa menunggu seri communicator terbaru dari nokia, yakni nokia 9500 ***. Ini lebih canggih lagi, bahkan sudah dilengkapi dengan GPRS. Siapa tahu kita juga bisa mengirim soundbyte dalam bentuk mp3 melalui email. Sebuah fungsi yang sebenarnya bisa dilakukan di 9210i, namun minta ampun lambatnya... Selamat mencoba..! * Artikel ini pertama kali muncul di situs offmike.typepad.com pada 23.07.2004. Situs tersebut sudah almarhum (ngggak kuat bayar.. hehehe)
** Saya akan bahas lebih rinci mengenai cara memaksimalkan penggunaan Nokia Communicator bagi keperluan reporter radio dalam artikel lain (Begitu saya tahu bagaimana cara meng 'capture' gambar di layar komunikator saya hehe.. ada yang tahu caranya?).
*** Beberapa bulan setelah tulisan ini saya buat, Nokia 9500 sudah keluar dan saya beruntung dapat kesempatan mencobanya selama beberapa minggu. Hebat dan lebih canggih. Sayang saya belum sempat mencoba proses pengiriman soundfile dengan GPRS.. Nantilah kalau sudah terbeli.. hehe
[Ah Teori..] Nuim dan Kewajaran
Saya lagi 'spring cleaning' alias mensortir arsip-arsip lama ketika menemukan beberapa makalah dari sebuah seminar yang pernah saya ikuti di tahun 1995 yang bertemakan Bahasa Siaran. Diantara sekian banyak makalah, ada satu yang menarik perhatian saya. Makalah ini ditulis oleh Nuim Khaiyath. Dia dikenal sebagai seorang 'broadcaster' senior dan sampai sekarang masih aktif di Radio Australia. Namun bagi saya dan pastinya juga bagi banyak orang radio lainnya, dia adalah legenda. Di mata saya -lebih tepat lagi di telinga saya- Bang Nuim adalah seorang 'born broadcaster', seorang penyiar sejati. Kehebatan seorang Nuim adalah kemampuannya bertutur ditambah pengetahuannya yang luar biasa, sehingga dia juga dijuluki 'sang kamus berjalan'. Tutur katanya tegas, lugas, kocak tapi bijak dan sarat dengan pengetahuan. Seorang penutur, seorang tukang cerita sejati yang punya kesan tersendiri di hati para pendengarnya, dan beruntung sekali bahwa seminar tersebut adalah kesempatan pertama saya bertatap muka langsung dengan beliau. (Lebih beruntung lagi karena saya sempat bertanya jawab di udara -walau singkat saja- dengan beliau saat saya meliput debat presiden beberapa tahun silam untuk salah satu jaringan radio di Jakarta). Maka jadilah saya yang kala itu masih penyiar baru -istilah koboinya 'greenhorn'- dibuat terbengong-bengong dengan presentasi makalah beliau yang disampaikan sebagaimana layaknya sedang siaran.
Banyak hal yang saya pelajari dari seorang Nuim Khaiyath. Salah satunya adalah bahwa suara yang bagus saja tidak cukup untuk menjadi seorang penyiar. Seorang penyiar harus mempunyai kepribadian yang bisa meliputi kemampuan bertutur yang jelas, bahasa yang bisa dipahami (jangan terjebak pada pemahaman berbahasa Indonesia yang baik dan benar), pengetahuan yang luas dan masih banyak lagi. Namun pelajaran terpenting dari seorang Bang Nuim yang hingga kini selalu saya pegang teguh adalah bersikaplah yang wajar. Seperti saya kutip dari makalahnya:
"Kita ini sebenarnya adalah manusia yang ingin menceritakan kisah tentang manusia, kepada pendengar yang juga manusia. Adalah kewajiban kita untuk terdengar sebagai manusia."
Berikut saya lampirkan makalah yang disampaikannya di tahun 1995 silam itu. Semoga bermanfaat, sebagaimana ia juga bermanfaat buat saya.
(catatan: mohon maaf, naskah ini saya scan dari naskah aslinya yang diketik dan semua berhuruf besar/capital. Namanya penyiar, bahkan makalah pun diketik dengan gaya siaran..hehe..)
Silahkan klik DISINI untuk membaca makalah Bang Nuim tersebut yang berjudul BAHASA INDONESIA YANG BENAR DAN BAIK DALAM KERANGKA ERFEKTIFITAS PENYAMPAIAN PESAN KEPADA PENDENGAR RADIO
|